Gerbang Sekolah Digembok Pemilik, Siswa SMK PGRI 3 Terlantar

DIGEMBOK: Siswa SMK PGRI 3 Bogor sempat tidak dapat masuk ke sekolah, Rabu (12/8/2015).
DIGEMBOK: Siswa SMK PGRI 3 Bogor sempat tidak dapat masuk ke sekolah, Rabu (12/8/2015).
DIGEMBOK: Siswa SMK PGRI 3 Bogor sempat tidak dapat masuk ke sekolah, Rabu (12/8/2015).

POJOKJABAR.id, RADAR BOGOR – Kasus sengketa lahan antara Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan (PPLP) PGRI dengan  eks Kepala SMK PGRI 3  Mardjono terkait kepemilikan lahan SMK PGRI 3  di Kedunghalang mencapai puncaknya. Rabu (12/8/2015), Mardjono yang juga pendiri SMP PGRI 3 mengembok gerbang utama sekolah.

Akibatnya, 1.200 siswa tertahan diluar. Pantauan Radar Bogor, pengembokan dilakukan sejak pukul 06:30. Ribuan siswa terlantar. Banyaknya siswa yang tak bisa masuk menyebabkan kemacetan di jalan Kedunghalang.Namun, kejadian itu tak berlangsung lama. Kapolsek Bogor Utara Kompol Indraningtyas, akhirnya membuka salah satu pintu yang tidak menjadi lahan sengketa.

Kasi Kurikulum Dikmen Dinas Pendidikan Kota Bogor Jajang Koswara yang ditemui  di lokasi mengatakan, aksi penggembokan  oleh pemilik lahan, sama sekali tidak ada pemberitahuan kepada sekolah atau Dinas Pendidikan.

“Kalau ada bisa saja siswa kami liburkan,” ujarnya seperti dilansir Radar Bogor, Kamis (13/8/2015).


Dia mengaku, Disdik tidak sanggup membuka pintu utama atau pintu depan karena lahan itu masih sengketa dan diklaim milik Mardjono. Sementara pintu yang dibuka oleh polisi, merupakan perluasan dari SMK PGRI 3, tanahnya milik PPLP PGRI dan dana pembangunannya dari berbagai pihak.

Jajang menjelaskan, sengketa ini terjadi, pada medio 2007-2008. Dan itu sudah ada putusan pengadilan. Menurut dia, penggembokan terjadi karena masalah baru, yaitu laporan adanya dugaan pemalsuan dokumen oleh kepala sekolah.

“Disdik tidak memahami masalah dugaan pemalsuan itu, itu sudah ranah kepolisian. Sebelum diputuskan, proses belajar harus berjalan. Tidak boleh diputuskan sendiri. Yang jelas, ruangan yang menjadi sengketa itu banyak,” tegasnya.

Sementara, Kuasa Hukum Kepala SMK PGRI 3 Bogor Ujang Abdurrohim, Komaruddin menegaskan, pihak sekolah sama sekali, tidak menginginkan adanya penggembokan. Karena ini,  demi kepentingan banyak anak didik. Dia berharap, Mardjono bisa bersabar karena masalah ini sudah ditangani pengacara-pengacaranya

“Jangan sampai mengganggu aktivitas pendidikan anak didik,” katanya.

Dikonfirmasi, Kuasa Hukum Mardjono, Hayqel Mahri menyataka, aksi pengembokan dilakukan oleh pihaknya , buntut karena ajakan dialog tidak pernah digubris PPLP PGRI.

“Adanya arogansi dari PPLP PGRI dan Kepala SMK PGRI 3. Dimana hak asasi atas tanah dan bangunan yang diusahakan, dibeli, dan dibangun  Mardjono, telah dirampas tanpa adanya modal dari PPLP PGRI  sepeserpun,” jelasnya.

Rencannya, Jumat (14/8) akan diadakan pertemuan lanjutan. Tapi, pihaknya meminta waktu lain. Karena mereka ingin pada pertemuan itu PPLP PGRI Jawa Barat dan PPLP Pusat, juga hadir.

“Jika dalam seminggu tidak terjadi kesepakatan, kemungkinanan akan disegel kembali dengan menutup juga ruang kelas,” tegasnya.

Atas kejadian itu, para siswa mengaku, agar sengketa sekolah ini cepat berakhir.

“Sudah tahu, karena masalah akte tanah. Kalau saya sih, ingin ini cepat diberesin antara pemilik dan kepala sekolah,” kata Agus, siswa kelas 12.

“Ya, sengketa kepala sekolah sama pemiliknya. Dari siswa pengennya cepat selesai, biar tidak terganggu belajarnya. Kita kan sudah kelas tiga,” tambah Dita Hanipa, siswa kelas 12 lainnya.

(radar bogor/ral/c)