Bela Terdakwa Pelecehan Anak, Kak Seto Diprotes

Seto Mulyadi
Seto Mulyadi
Seto Mulyadi

POJOKJABAR.id, RADAR BOGOR – Kasus dugaan tindak asusila terhadap bocah MI (5) yang dilakukan oleh karyawan Fun World Botani Square (LP) terus bergulir. senin(10/8), pihak terdakwa menghadirkan saksi ahli, yakni Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto.

“Ketiga saksi ahli yang dihadirkan oleh penasihat hukum terdawa,” ujar Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bogor, Paul Marpaung kepada Radar Bogor. Rencananya, sidang kembali akan dilanjutkan pekan depan, dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa.

Hadirnya Kak Seto dalam persidangan itu mendapat cibiran dari pihak keluarga korban. Sebab, seharusnya Kak Seto membela korban pelecehan, bukan justru mendukung terdakwa pelecehan.

“Kak Seto itu kan seseorang yang identik melindungi anak, dia juga ketua Dewan Pembina Perlindungan Anak Indonesia yang awalnya berpihak kepada
kami, mengawal kasus ini. Tetapi, hari ini beliau datang atas undangan pihak terdakwa,” ujar ayah MI (5), Dwi Krismawan, usai sidang senin(10/8).


Dwi juga mempertanyakan kapasitas Kak Seto sebagai Dewan Pembina Perlindungan Anak Indonesia.

“Saya patut mempertanyakan apakah masih ideal visi misinya untuk melindungi anak Indonesia,” ungkapnya.

Awalnya, kata Dwi, Kak Seto-lah yang mendukung proses hukum yang dilakukan pihaknya hingga masuk ke meja hijau. Namun, belakangan justru berbelok. Padahal, pihak keluarga hanya meminta kebenaran ditegakkan.

“Hari ini kami kecewa, padahal kami memegang komitmen dari Kak Seto. Kami khawatir keterangannya akan mementahkan kasus ini, sedangkan kebenaran tidak ditegakkan,” bebernya.

Menurut dia, kehadiran Kak Seto sebagai saksi ahli terdakwa sudah sangat mencederai anakanak. “Semua orang kan tahu dia sudah melindungi anak Indonesia, tetapi sekarang tidak berpihak. Padahal anak adalah sebagai aset dan penerus bangsa,” bebernya.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa LP, Muhammad Daud B menjelaskan ada tiga ahli yang dihadirkan dalam proses persidangan. Yaitu, Seto Mulyadi sebagai ahli perlindungan anak, Bintatar Sinaga sebagai ahli pidana, dan Dwi sebagai psikolog. Dari ahli perlindungan anak, reaksi anak ketika mendapatkan pelecehan seksual akan spontan, tetapi jika dilihat secara fakta, dari CCTV, unsur itu tak bisa dibuktikan.

“Anak dalam kondisi yang tidak ada masalah, paling penting adalah pengaruh orang tua,” bebernya.

Secara unsur pidana, kasus ini tak dapat dikategorikan ketika perbuatan menyentuh itu dikaitkan dengan perbuatan seksual.

“Tapi, yang harus dibuktikan, unsur subjektifnya, kesengajaan dan pengetahuan,” beber dia.

Jika itu tidak bisa dibuktikan unsur pidana seperti dituangkan pada Pasal 82 Undang- Undang (UU) Perlindungan Anak serta Pasal 281 KUHP, itu tak dapat dibuktikan. Selain itu, berdasarkan keterangan psikolog, ada beberapa proses yang menentukan apakah anak trauma atau tidak.

“Kategori trauma anak harus spontan, hari pertama kejadian justru terlihat tersenyum sampai meninggalkan area. Di hari kedua pertemuan dengan manajemen Fun World tidak ada rasa ketakutan. Ketika ditanya apakah masih mau ke Fun World, takut atau tidak, anak menyatakan masih mau,” pungkasnya.( radar bogor/ded/c)