Empat Hari tanpa Daging Sapi

MOGOK: Lapak-lapak di blok pedagang daging sapi di sejumlah pasar di Kota Bogor tutup sejak Sabtu (8/8/2015).
MOGOK: Lapak-lapak di blok pedagang daging sapi di sejumlah pasar di Kota Bogor tutup sejak Sabtu (8/8/2015).
MOGOK: Lapak-lapak di blok pedagang daging sapi di sejumlah pasar di Kota Bogor tutup sejak Sabtu (8/8/2015).

POJOKJABAR.id, RADAR BOGOR-Masyarakat di wilayah Jakarta, Bandung, Banten dan Bogor harus menahan diri untuk tidak makan daging sapi selama empat hari ke depan. Pasalnya, aksi mogok jualan yang digawangi Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) bakal tetap berlangsung hingga Rabu (12/8/2015).

Ancaman aksi mogok para pedagang sapi tersebut memang bukan pepesan kosong. Di sejumlah pasar tradisional, lapak-lapak di blok pedagang daging sapi tampak tutup. Rahman, petugas keamanan blok C dan D Pasar Anyar mengatakan, sejak Sabtu kemarin, sebagian pedagang sudah mogok jualan.

“Katanya mau mogok sekalian demo ke Jakarta. Itu yang saya dengar dari pedagang daging,” kata dia.

Kabid Perdagangan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bogor Mangahit Sinaga mengaku sudah mengetahui kabar tersebut. Namum pemerintah daerah tak bisa berbuat banyak. Hanya berharap Menteri Perdagangan Rachmat Gobel bisa segera memasukkan sapi impor.


“Bicara kuota yang dikurangi, benar mengakibatkan harga naik. Mudah-mudahan bisa cepat karena rekomendasi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sudah masuk sejak Jumat kemarin,” imbuh Kepala Dinas Peternakan dan Pertanian Kota Bogor Azrin Samsudin.

Azrin menjelaskan, kuota impor sapi yang dikurangi menyebabkan harga daging sapi melambung tinggi. Langkah antisipasi dengan menyiagakan 14 titik pemasok sapi impor pun terkesan percuma karena masyarakat lebih suka daging sapi Bali, Bima dan Kupang.

“Itu tidak masalah. Para pemasok kita sekarang masih siaga, menunggu dan melihat,” jelasnya.

Ketua APDI, Asnawi mengatakan, pedagang daging sapi di kota-kota lain di seluruh Indonesia bahkan sudah tidak jualan sejak seminggu yang lalu akibat harga yang terlalu tinggi.

“Harga mahal bukan berarti kami untung, tapi memang kulakannya sudah mahal,” ujarnya.

Ia mengatakan, rata-rata kenaikan harga daging di tempat pemotongan hewan atau jagal sebesar Rp 2.000 hingga Rp 4.000 per kilogram (kg). Sementara harga jual selama ini tidak bisa naik lagi karena telah mencapai diatas Rp 120 ribu perkilogram.

“Kalau kita jual mahal sampai Rp 130 ribu perkilogram tidak akan laku. Ya bagaimana kita mau jualan kalau untungnya sedikit sekali,” lanjutnya.

Ia meminta agar pemerintah segera mengambil sikap mengatasi persoalan ini. Menurutnya, pemerintah dan semua pihak harus duduk bersama dan menghitung ulang kebutuhan serta ketersediaan pasokan sapi nasional. Sebab berita yang ada masih simpang siur antara kesiapan peternakan lokal dengan kenyatan di lapangan.

“Kalau memang pasokan daging kurang, maka bisa dibuka kembali impor,” sebutnya.

Menurut dia, harga jual daging sapi di pasaran cenderung terus naik setelah pemerintah mengumumkan hanya akan mengimpor sebanyak 50 ribu sapi di kuartal II tahun ini. Menurut APDI, pemberian izin impor sebesar 50 ribu ekor sapi itu sangat jauh dari kebutuhan. Sebelumnya, importir mengajukan kuota impor sebesar 250 ribu ekor.

“Kita berharap demo ini bisa membuat pemerintah mengubah kebijakannya,” kata dia.

(radar bogor/viv/ral)