Omzet Butik Turun

BUTIK
BUTIK
BUTIK

POJOKSATU.id, BOGOR–Lesunya perekonomian, tampaknya, juga terjadi pada bisnis fashion, khususnya busana wanita. Setidaknya hal itu dirasakan para pemilik butik di Botani Square. Toko busana wanita itu mengalami penurunan, baik jumlah pengunjung maupun jumlah omzet. Sejumlah 15 butik di Botani Square lantai I, sebagian besar mengakui, sejak bulan lalu hingga saat ini, pengunjung dan omzet tiap harinya turun hingga 20 persen.

Bahkan, tak jarang omzet yang diterima turun lebih dari 20 persen. Menurut karyawan Butik Fanneta, Siska, kalau keadaan normal, omzet ratarata tiap hari sekitar Rp3-4 juta. Namun sejak April, omzet tak sampai separuhnya. “Jarang bisa lebih. Paling tinggi Rp2 juta, lebih sering Rp1 jutaan,” ucap Siska. Omzet tinggi hanya Jumat hingga Minggu. Sedangkan hari normal kisaran Rp1- 1,5 juta. Ia mengatakan, sejatinya penurunan sudah terasa sejak awal tahun. Puncaknya April kemarin.

Tak jauh berbeda dengan Siska, karyawan butik lain juga mengatakan bahwa sejak awal tahun lalu terus mengalami penurunan omzet. Tak hanya omzet yang menurun tapi juga jumlah pengunjung. “Biasanya kalau Jumat sampai Minggu ramai, walaupun cuma lihat dan tanya-tanya. Sekarang sepi,” ungkap karyawan Manda Boutique, Norma kepada Radar Bogor selasa.

Penurunan omzet terjadi karena menjelang akhir tahun ajaran sekolah, lebih banyak yang mengutamakan pembayaran sekolah. “Wajarlah turun. Mungkin semua pelanggan mau bayar uang sekolah, uang ujian, bdan kebutuhan sekolah lainnya,” ujarnya. Ditambah lagi menjelang puasa, masyarakat akan menunggu berbelanja pakaian mendekati Ramadan dan Lebaran.


Sementara itu, Sales Promotion Girl Ladys Room Butik, Adhe mengatakan, omzet butik turun karena di tempat lain sering ada pameran dengan diskon tinggi hingga 75 persen. “Banyak pameran di lantai bawah, jadinya butik sini sepi,” jelas Adhe. Karena pengunjung dan omzet turun, butiknya tidak mengisi stok baru dan hanya menghabiskan stok lama. Sambil menunggu tren jelang Lebaran, butik tetap beroperasi dengan stok lama. Harganya juga tidak mahal. “Yang penting barang habis dan berputar menjadi barang baru,” pungkasnya.(mer/c)