Dirut RSUD Dilantik, Janji Dewi Tak Ada Lagi Pasien Ditolak

RESMI: Walikota Bogor Bima Arya melantik Dirut RSUD terpilih Dewi Basmala di Plaza Balaikota Bogor kemarin.
RESMI: Walikota Bogor Bima Arya melantik Dirut RSUD terpilih Dewi Basmala di Plaza Balaikota Bogor kemarin.
RESMI: Walikota Bogor Bima Arya melantik Dirut RSUD terpilih Dewi Basmala di Plaza Balaikota Bogor senin kemarin.

POJOKSATU.id, BOGOR-Dewi Basmala seni kemarin resmi memimpin satu-satunya rumah sakit daerah milik Pemkot Bogor. Mantan Dirut RS Medika Dramaga itu dilantik oleh Walikota Bogor Bima Arya, di hadapan jajaran Muspida dan Muspika Kota Bogor.

“Yang paling penting pertama adalah membangun kultur melayani. RSUD ini jangan hanya terjebak kepentingan komersil, jangan sampai juga kemudian lupa bahwa tugas utamanya adalah meningkatkan kualitas pelayanan,” kata Bima usai pelantikan.

Sementara pekerjaan rumah yang harus dihadapi Dirut baru yakni merumuskan standar pelayanan minimal. Kemudian merumuskan rencana cetak biru pengembangan rumah sakit dalam 20 tahun ke depan.

“Saya tidak mau lagi mendengar ada laporan tentang layanan buruk. Kamar yang dibilang penuh, dilayani dengan tidak ramah, atau ada warga yang tidak mampu kemudian dipersulit,” kata tegas Bima.


Semangat RSUD seyogyanya melayani dan mempermudah, bukan mempersulit. Karenanya Bima berjanji akan mengevaluasi kinerja Dirut baru RSUD Kota Bogor. Termasuk administrasi, keuangan, perkembangan fasilitas dan lainnya.

“Kita akan evaluasi secara keseluruhan, agar tertib semuanya. Supaya tidak ada catatan-catatan nantinya,” kata Bima.

Kepada Radar Bogor, Dirut RSUD Dewi Basmala mengaku sudah mempersiapakan tiga program unggulan pelayanan masyarakat. Yakni hemodialisa, central jantung, dan central tumor.

“Banyaknya orang yang menderita penyakit ginjal, perlu mendapat layanan kesehatan cuci darah yang memadai. Untuk central jantung, saya sudah mencari dokter khusus dari RS Gunung Jati. Rencananya datang ke Bogor bulan depan,” kata Dewi usai pelantikan.

Kemudian untuk pelayanan central tumor, RSUD akan menyediakan layanan kemotherapy. Selain tiga program unggulan itu, Dewi tetap mengedepankan persoalan vital yang pasti dialami RSUD yakni program BPJS.

“Rumah sakit tetap harus memprioritaskan pasien BPJS karena hal itu merupakan universal coverage,” kata Dewi.

Untuk meningkatkan kualitas RSUD, ia akan mengubah budaya organisasi yang sudah ada. Disusuk kemudian membentuk tim yang handal. Sehingga kepuasan pelanggan yang menjadi tujuan utama bisa tercapai.

“Yang namanya customer satisfaction, seseorang dirasakan mulai dari depan sampai belakang. Paling depan itu pintu masuk dan dimulai dari tempat parkir,” tandasnya.

Ia juga tidak menampik, RSUD tetap bergantung dari anggaran. Jika anggaran tidak ada, maka pelayanan harus di-switch. Dengan ketentuan jumlah tempat tidurnya harus 40 persen dari total tempat tidur yang ada di RSUD.

“Jika ketentuan tersebut belum mencapai juga, maka untuk ruangan VIP akan dikurangi dan diturunkan menjadi kelas I. Kemudian untuk kelas I akan diturunkan menjadi kelas II, dan kelas II diturunkan menjadi kelas III. Sehingga bisa mencapai fungsi sosial rumah sakit,” urainya.

Dewi memastikan, RSUD tidak akan menolak pasien meskipun kelas III sudah penuh. Ia sudah menyiapkan alternatif yang bisa dilakukan, misalnya dititipkan dulu di ruang VIP atau di kelas I.

“Intinya jangan sampai ada pasien yang ditolak. Daripada VIP itu kosong tidak dipakai, itu bisa digunakan. Jadi dititip dulu saja,” tegasnya.

Dia berharap, RSUD bisa menjadi pilihan masyarakat Kota Bogor. Dengan segala kebutuhan sudah ada di RSUD, sehingga tidak perlu mencari alternatif ke RS lain.

“Jadi ketika ada pasien penderita kanker atau jantung tidak perlu ke Harapan Kita, cukup di Bogor saja karena sudah ada pelayanan dan dokter yang memadai,” pungkasnya.(viv/pkl1/c)