Sehari, Satu Siswi di Bogor Hamil

GRAFIS
GRAFIS
GRAFIS

POJOKSATU.id BOGOR– Jangan heran jika level kenakalan remaja saat ini semakin menggila. Rencana pesta bikini pelajar SMA di Jakarta yang sempat menghebohkan publik, tengah pekan lalu hanya sebatas indikasi. Karena faktanya, dalam sehari ada seorang remaja seusia SMP dan SMA di Bogor tak bisa melanjutkan studinya lantaran hamil duluan.

Penelusuran Radar Bogor, tingkat pernikahan dan kehamilan remaja berusia 16 tahun di Kota Bogor cukup mencengangkan. Pada 2014, dari total 7.378 pasangan menikah, terdapat 369 pasangan (5 persen) melangsungkan pernikahan dini. Atau jika kemudian dirata-ratakan dengan jumlah hari, maka setiap harinya ada seorang siswi setingkat SMP-SMA menikah dengan alasan hamil.

GRAFIS
GRAFIS

Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan Masalah Islam (Bimas) Kemenag Kota Bogor, Sufyan Suri mengatakan, faktor dominan dari pernikahan diri karena si mempelai perempuan telah terlebih dahulu mengandung alias hamil duluan. Sedikit di antaranya juga karena tingkat pendidikan yang rendah.

“Kebanyakan masih pelajar ada yang SMP hingga SMA. Dari pengakuan, ada yang menikah tanpa sepengetahuan orang tua mereka alias karena ‘kecelakaan’ (hamil duluan, red),” katanya kepada Radar Bogor kemarin.


Sesuai UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, batasan minimal usia kawin bagi laki-laki yakni berusia 19 tahun dan perempuan berusia 16 tahun. Bagi pasangan yang ingin menikah tapi belum memenuhi kriteria umur itu harus mengajukan dispensasi kawin.

Namun, sepanjang kurun waktu setahun terakhir pernikahan di usia 21 -30 tahun paling mendominasi. Tercatat ada sekitar 70 persen atau 5.165 pasangan yang menikah di usia itu. Dalam kasus menikah di usia muda, kata dia, sebenarnya harus ada persetujuan pengadilan agama, karena ada batasan umur yang telah diatur dalam UU. Namun biasanya ada pasangan yang menyembunyikan kehamilan pasangannya.

“Ada pasangan yang tidak mau ribet, sehingga saat ditanya alasan menikah muda, disebabkan perjodohan dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Untuk sebaran wilayah, setahun lalu warga Kecamatan Bogor Barat tercatat paling banyak menikah dengan jumlah 1669 pernikahan. Sedangkan Kecamatan Bogor Timur tercatat paling sedikit melaksanakan pernikahan dengan hanya 670 pernikahan.

Sementara itu, permohonan dispensasi kawin yang diajukan ke Kantor Pengadilan Agama Klas 1B Kota Bogor sepanjang tahun 2014 berjumlah 56 pasangan. Naik dari tahun sebelumnya sebanyak 45 pasangan.

Lonjakan dispensasi kawin yang dikeluarkan PA sebagai syarat mendaftarkan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) ini disebabkan calon pengantin perempuannya sudah hamil duluan.     “Pasangan muda ini masih usia sekolah. Usia yang laki-laki rata-rata di bawah 19 tahun dan yang perempuan di bawah sekitar 16 dan 17 tahun,” kata Panitera Muda Hukum dan Petugas Informasi Kantor Pengadilan Agama Klas 1B Kota Bogor,  Agus Yuspiain

Dalam pengajuan dispensasi kawin tidak serta-merta langsung diloloskan. Biasanya, PA akan meminta sejumlah syarat sebelum mengabulkan dispensasi kawin. Syaratnya antara lain pengetahuan pemohon tentang tata cara menikah sesuai ajaran Islam.

“Jika dalam praktiknya pemohon gagal, kami beri waktu dua sampai tiga minggu untuk ikut sidang lagi,” paparnya.

Terpisah Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor kesulitan menghadapi tingginya siswi yang telah hamil duluan. “Untuk jumlahnya,  sekolah yang lebih tahu, memang ada laporan yang masuk. Sejauh ini yang kami lakukan dengan cara menerapkan konseling di sekolah,” ujar Kepala Disdik Kota Bogor Edgar Suratman.

Dia juga sudah mengimbau bagi orang tua siswa agar bisa menjaga pergaulan sang anak. Terkait perayaan berlebihan yang dilakukan siswa setelah melaksanakan UN, pihaknya sudah mengeluarkan edaran larangan bagi siswa untuk coret-coret apalagi sampai melakukan pesta. “Sudah kita keluarkan edaran. Kita bekerja sama dengan Satpol PP dan satgas pelajar,” tukasnya. (ind/c)