Tunjangan Ekstra untuk Pendidik ABK

GRAFIS
GRAFIS
GRAFIS

POJOKSATU.id, BOGOR–Penerapan sekolah inklusi di Kota Bogor masih semrawut. Dalam satu kelas, rasio anak berkebutuhan khusus (ABK) dan siswa reguler bisa mencapai 50-50. Idealnya, dalam satu kelas hanya ada 10 persen ABK. Itu agar ABK bisa beradaptasi dan mengikuti prestasi siswa reguler.

Fakta itu terungkap dari observasi dua guru Western Autistic School Melbourne Australia bersama Rotary Club Indonesia dan Yayasan Keluarga Istimewa Indoensia (YKII) Kota Bogor. Public Relation YKII, Maya Ramayanti menjelaskan, contoh perbandingan 50-50 itu terlihat di SD Perwira Kota Bogor.

“Karenanya kami berharap perhatian pemerintah kepada ABK. Khususnya di SD Perwira,” ujarnya kepada Radar Bogor kemarin.

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman terkejut mengetahui fakta tersebut. Bahkan Usmar merasa berdosa atas perbandingan rasio ABK dan siswa reguler yang tak wajar. “Saya jadi merasa berdosa. Ternyata memang SD Perwira itu SD inklusi,” ungkapnya.


Kendala yang ada pada sekolah inklusi adalah tidak semua guru mau dan mampu menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Para guru harus memiliki kesabaran ekstra dan kompetensi lainnya.

Namun Usmar berjanji, Pemkot Bogor bakal menyiapkan sarana prasarana yang dibutuhkan untuk memperbaiki pelayanan sekolah inklusi. “Apakah SD Perwira bisa di-upgrade menjadi sebuah sekolah yang representatif, misalnya,” kata dia.

Terlebih, menurut observasi guru spesialis ABK asal Negeri Kanguru, SD Perwira memadai untuk dikembangkan. Itu jika melihat luas lahan, kondisi lingkungan dan lain sebagainya. “Tinggal kami nanti bagaimana memenuhi kebutuhan-kebutuhan sarana prasarana yang dibutuhkan oleh anak-anak berkebutuhan khusus ini,” ucapnya.

Dalam waktu dekat, Usmar akan kembali mengundang YKII dan Rotary Club Kota Bogor, serta beberapa stakeholder. Undangan tersebut untuk merumuskan dan mengantisipasi semrawutnya penerapan sekolah inklusi.

Sebagai salah satu solusi, pemkot bakal menambah insentif guru-guru atau tenaga sukarelawan yang mau mengajar di sekolah inklusi. “Kalau gaji guru kan sama. Tapi yang mendidik ABK kan tidak semua mau. Karena harus ekstra sabar dan segalanya, jadi intensifnya adalah tunjangan tambahan penghasilan itu tadi,” tambahnya.

Sekadar informasi, kecenderungan tingkat penderita autis atau ABK di Kota Bogor meningkat signifikan. Kecenderungan itu diprediksi meningkat kembali apabila ada keterbukaan dari para orang tua, ketika mengenali gejala-gejala ABK.

“Makanya, semua stakeholder akan saya kumpulkan. Nantinya mereka harus sosialisasi dari kecamatan ke kecamatan, kelurahan dan seterusnya,” tandas Usmar. (ran/c)