Alasan Kuat Warga Garut, Ramai-ramai Pindahkan Kuburan

Retakan Tanah Melebar di Cikajang Kabupaten Garut./Foto: Rmol

Retakan Tanah Melebar di Cikajang Kabupaten Garut./Foto: Rmol

POJOKJABAR.com, GARUT– Sejumlah kuburan di lahan pemakamana umum di sekitar┬áKampung Sukasari, Kecamatan Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, ramai-ramai dipindahkan warga.

Pasalnya, lahan pemakaman umum memgalami retak hingga berpotensi longsor.

Menurut Ketua RW 04 Kampung Sukasari, Abdurrahman mengatakan, pergerakan tanah yang terjadi di pemakaman umum itu kali pertama diketahui pada pekan lalu.

Awalnya, hanya terlihat retakan tanah selebar 2 sentimeter dengan panjang beberapa meter di satu titik. Namun semakin lama retakan tanah semakin melebar dan meluas.

Saat ini, lebar retakan tanah itu mencapai 30 sentimeter, dengan kedalaman 4,5 meter dan meluas hingga ratusan meter. “Tidak ada tanda, tahu-tahu sudah ada retakan dan pondasi amblas,” katanya, Rabu (30/10).

Akibat retakan itu, warga sekitar berinisiatif untuk memindahkan makam keluarga mereka. Hingga saat ini, setidaknya telah ada 21 makam yang dipindahkan. Namun, pergerakan tanah itu tak hanya mengancam makam, melainkan juga rumah warga.

Ia menyebutkan, terdapat sekitar 50 rumah milik warga yang berdiri di sekitar lokasi pergerakan tanah itu. Sekitar 60 kepala keluarga (KK) atau 240 jiwa terancam longsor. Bahkan, ada enam rumah atau delapan KK berada di bawah tebing yang terancam longsor itu. Namun, hingga saat ini belum ada perintah untuk mengungsikan warga.

“Warga mulai khawatir akan keselamatannya. Takutnya ada longsor besar. Kalau tambah parah, kita ungsikan,” kata dia.

Abdurrahman mengatakan, pihaknya telah melaporkan kejadian itu ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut. Pemkab juga telah mengontrol langsung lokasi pergerakan tanah.

Untuk sementara, warga hanya disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan dan mulai mengantisipasi kemungkinan terburuk. Selain itu, aparat desa juga diistruksikan untuk menebang pohon bambu yang berada di lokasi.

Menurut dia, berdasarkan hasil pantauan pemkab yang juga didampingi ahli geologi, pergerakan tanah itu diperkirakan terjadi akibat angin kencang selama musim kemarau. Akar bambu yang merambat ke bawah tanah menyebabkan tanah ikut bergerak, lantaran angin kuat menggoyang pohon bambu. Selain itu, lanjut dia, diperkirakan di lokasi itu terdapat patahan lempengan bumi.

Ia mengatakan, di wilayah itu memang pernah terjadi longsor. Namun, longsor hanya terjadi kecil dan tak menimbulkan kerugian berarti untuk warga.

“Tahun kemarin longsor, cuma kecil. Kalau saat ini retakannnya besar,” kata dia.

Aparat Desa Mekarsari, Teteng Ahmad Faqih mengatakan, pihaknya telah menyarankan kepada warga yang tinggal di bawah tebing itu untuk mengungsi jika malam hari. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kejadian yang tak diinginkan.

Ia juga telah meminta aparat setempat untuk terus memantau pergerakan tanah yang terjadi. Jika semakin parah, warga diimbau untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Ia juga mengimbau warga untuk terus waspada. Pasalnya pergerakan tanah itu sangat berpotensi untuk menimbulkan longsoran.

“Dulu pernah longsor, beberapa tahun terakhir. Itu baru sekali. Sekarang potensi lagi,” kata dia.

(son/rmol/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds