Simak Kesepakatan Peneliti Soal Anak Usia Dini Belajar Bahasa Asing

GURU ASING: Jason (24), sedang mengajar Bahasa Inggris di SMKN 1 Cilaku.

GURU ASING: Jason (24), sedang mengajar Bahasa Inggris di SMKN 1 Cilaku.

POJOKJABAR.com, PANTURA– Tak sedikit orang tua mengantarkan buah hati ke tempat kursus atau tempat les bahasa Inggris.

Hal tersebut agar anak mereka fasih dalam berbicara dan menulis bahasa kedua selain bahasa ibu.

Hal ini lantaran perkembangan zaman semakin maju, dan menuntut para orang tua untuk mendidik anak mereka dengan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris.

Keinginan itu semua tetap harus mempertimbangkan usia anak, bukan dipaksa sesuai ambisi orang tua.

Dilansir dari Mother.ly, Jumat (7/6), semua peneliti sepakat bahwa semakin dini seorang anak mulai belajar bahasa kedua, semakin baik.

Beberapa peneliti mengatakan bahwa keterampilan akuisisi bahasa kedua memuncak pada atau sebelum usia 6 atau 7.

Kemampuan anak berbahasa asing semakin meningkat di usia remaja.  Mulai Usia 3-4  Studi oleh Universitas Harvard menegaskan bahwa kreativitas, keterampilan berpikir kritis, dan fleksibilitas pikiran meningkat secara signifikan jika anak-anak belajar bahasa kedua pada usia yang lebih muda.

Tahun-tahun prasekolah, terutama 3 tahun pertama kehidupan sebagai periode vital dalam kehidupan seorang anak.

Di sinilah pondasi untuk sikap, pemikiran, dan pembelajaran, antara lain, diletakkan. Ini berarti bahwa anak-anak memiliki kemampuan alami untuk belajar pada usia 3-4 tahun pertama kehidupan mereka.

Otak manusia adalah hal yang luar biasa. Dari saat kita dilahirkan, kita belajar dengan enam cara utama, dengan melihat, rasa, bau, suara, sentuhan, dan melalukan sesuatu.

Seorang guru di Moreton First Prep School mengatakan bahwa anak berusia 3 tahun yang menghadiri kelas prasekolah punya kemampuan berbicara bahasa Inggris melalui permainan dan lagu. Dan anak-anak berusia sekitar 3-4 tahun dapat belajar melalui permainan karena pikiran mereka belum diliputi oleh fakta dan informasi rumit.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh direktur laboratorium ilmu saraf kognitif untuk perkembangan bahasa dan anak di Dartmouth College (Hanover) telah menunjukkan bahwa setelah masa remaja, otak berubah saat remaja dan dewasa.

(jpc/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds