Menilik Kantor Baru Desa Tambun yang Megah

JENDELA WAWASAN: Kepala Desa Tambun, Jaut Sarjawinata sedang membaca buku yang ada di koleksi kantor desa.FOTO: AZZI/RADAR BEKASI
Sekretaris Apdesi Kabupaten Bekasi, Jaut Sarja Winata. (Dok. Radar Bekasi)

POJOKJABAR.com, TAMBUN SELATAN – Meski bau cat masih tercium dan pembangunan masih terlihat belum selesai sepenuhnya, namun megahnya Kantor Desa Tambun sudah bisa dirasakan.

Memakai luas lahan sekitar 200 meter persegi, tampak luar sudah terlihat bagaimana megah serta modernnya bangunan kantor yang mulai dibangun sejak Juli 2015 lalu.

Meski puing bangunan dari kantor desa sebelumnya masih berserakan di pelataran parkir, namun pengunjung akan mendapati penampilan berbeda ketika memasuki kantor yang sudah menghabiskan dana sekitar Rp800 juta tersebut.

Di kantornya yang baru, Kepala Desa Tambun, Jaut Sarjawinata menyediakan bangku nyaman, televisi, dan juga kabinet buku untuk warganya yang sedang menunggu pelayanan.


Meski berada di pojokan kantor dan terbilang baru, kabinet buku tersebut sudah terisi cukup banyak buku bacaan untuk segala usia, dari komik romantis seperti Salad Days, hingga novel horor seperti Goosebump.

Di pintu kabinet sendiri terdapat tulisan Jendela Informasi Dunia yang di-print di kertas putih berukuran A4. Menurutnya, dengan hobi membaca, kita bisa melihat dunia secara luas.

“Yang datang kan terkadang bawa anaknya, nah kita ingin menanamkan gemar membaca dan ingin memberitahu kalau membaca itu bisa tahu macam-macam,” ujarnya.

Buku-buku koleksi Desa Tambun sendiri dikatakan olehnya didapat dari warga yang dengan sukarela menyumbangkan ke desa. Meski banyak berasal dari sumbangan, dikatakan Jaut, masyarakat tidak perlu takut ketinggalan informasi terbaru, karena dirinya pun akan menyediakan majalah-majalah mingguan.

“Memang ada beberapa yang sudah lama, tapi kita juga akan menyediakan bacaan seperti koran atau majalah, baik harian maupun mingguan, dan juga menyediakan novel-novel yang emang peminat bacanya tinggi,” ungkapnya.

Kabinet buku yang disediakan oleh kantor desa sendiri, dikatakan Jaut, tidak hanya untuk mereka yang sedang mengurus surat administrasi saja, melainkan untuk mereka yang memang hobi membaca maupun yang sudah tanggung dalam membaca.

“Silahkan saja warga datang kapan pun mereka mau, karena kantor desa sendiri juga rumah warga, tapi mungkin peraturannya saja yang berbeda dengan di rumah sendiri,” imbuhnya sambil tersenyum. (ich)