Persiapan Warga Tionghoa Menyambut Cap Go Meh

PUSAT IBADAH: Warga saat melintasi Klenteng Hok Lay Kiong Bekasi. Pawai Cap Go Meh di Kota Bekasi, nantinya akan dipusatkan di klenteng tersebut.FOTO:MIFTAH/RADAR BEKASI

POJOKJABAR.com BEKASI – Sejak era Reformasi dan berakhirnya rezim orde baru terlebih saat Presiden Republik Indonesia, di jabat oleh Abdurahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gusdur, memberikan ruang bagi etnis Cina untuk merayakan hari besar keagamaannya seperti Imlek dan Cap Go Meh hingga menjadi hari libur nasional.

Atas kebijakan dari Gusdur yang memberikan kebebasan bagi etnis Cina di Indonesia umumnya dan Kota Bekasi khususnya, menjadi kesan tersendiri bagi Ketua Panitia Imlek dan Cap Go Meh Kota Bekasi Rudi Hermawan.

Atas kemurahan hati Gusdur itulah,  warga etnis Cina di Kota Bekasi bisa merayakan Cap Go Meh dengan suka cita, sehingga di tahun ini perayaan hari ke lima belas setelah Imlek akan diisi berbagai acara di antaranya Atraksi budaya, Pawai Tatung, terus dimatangkan.

“Jadi pergantian tahun baru Cina menjadi momen spesial bagi kami, karena saat perayaan Cap Go Meh, akan ada pawai tatung atau orang yang mendapatkan izin dari dewa ditandai dengan masuknya roh ke badan yang bersangkutan. Kemudian diarak keliling kota sesuai rute yang telah ditentukan. Tatung merupakan sebuah proses raga seseorang dikuasai roh,” tutur Rudi, Rabu (17/2).


Rudi menjelaskan, siapa yang bisa menjadi Tatung adalah orang-orang  yang raganya menjadi pilihan. Tidak sembarang orang bisa menjadi Tatung. Namun dalam perkembangannya, hal tersebut dilakukan melalui proses diisi roh oleh orang yang memiliki keahlian.

Dalam perkembangannya, terjadi wabah penyakit yang sangat ganas hingga menyebabkan beberapa warga meninggal. Kemudian adanya hubungan antara manusia dengan Tuhan, datanglah utusan ke tempat tersebut.

Datangnya utusan ini, dengan cara tubuh manusia yang dirasuki roh, yang kemudian melakukan pencegahan dan membuang wabah penyakit. Apa yang dilakukannya berhasil, wabah penyakit hilang. Sejak kejadian itulah menurut Rudi, setiap  tanggal 15 bulan Imlek menjadi hari peringatan hubungan Tuhan dan manusia.

Tatung yang sampai sekarang ini ada, Menurut Rudi berdasarkan sejarahnya merupakan budaya lokal yang lahir, dengan mengandung nilai-nilai ritual, di mana ada amalannya, doa-doanya.

“Jadi ada sisi keagamaan yang melingkupi budaya lokal tersebut, lantaran ada ritual-ritual yang harus dilakukan, dalam kegiatan Tatung, ada satu energi yang memasuki raga sehingga manusia tersebut memiliki kekuatan lebih untuk melakukan pembersihan Kota dari segala hal negatif,” pungkasnya. (*)