Belajar Dilantai tanpa Kursi dan Meja , Siswa Kedinginan

Dokumentasi

POJOKJABAR.com, BEKASI – Memiliki meja dan kursi seperti sekolah pada umumnya, menjadi impian Sony (10) sejak lama. Siswa kelas V SDN Margajaya II ini selalu berharap, kelasnya memiliki meja dan kursi untuk belajar.

Sejak dua tahun lalu, dia terpaksa belajar di lantai alias Deprok. Bahkan, dia bersama puluhan teman lainnya terpaksa harus menahan rasa dingin saat belajar ketika musim penghujan. Wajar saja, mereka tidak menggunakan alasan apapun saat belajar.

”Kalau hujan saya selalu kedinginan, karena saya belajar di lantai. Padahal saya mau sekali pak, belajar pake meja dan kursi di dalam ruang kelas saya,” katanya.

Sony dan teman-temannya membuat senyaman mungkin saat belajar. Kalau sudah capek duduk, kadang dia sambil rebahan. ”Pegel duduk terus, pinggang yang sakit. Kalau tengkurep terus, dadanya sakit,” imbuhnya.


Dia tidak sendirian, siswa kelas IV di sekolah yang sama juga belum memiliki meja dan kursi. Seharusnya, di kelas tersebut tersedia 20 meja dan 40 kursi. Sehingga, SDN Margajaya II membutuhkan 60 kursi dan 20 meja untuk dua kelas.

“Kami sudah dari tahun 2013 mengajukan proposal ke Dinas Pendidikan akan tetapi tidak ada respon dari Dinas Pendidikan. Kami sering di tanya oleh orang tua murid kenapa tidak ada bangku,” kata Guru Kelas V SDN Margajaya II Nurlisma.

Nurlisman menambahkan, terakhir menerima bangku dan meja itu pada tahun 2013 awal, dan itu hanya beberapa saja. Sisanya bangku-bangku yang ada tidak layak lagi digunakan oleh para siswa, yang kondisinya sudah rusak. ”Kami berharap Pemerintah bisa segera mengadakan bangku dan meja di tahun ini,” ungkapnya.

Tidak hanya SDN Margajaya II saja, SDN Margajaya I mengalami hal yang sama. Namun, SDN Margajaya satu lebih beruntung, karena hanya satu kelas yang tidak memiliki meja dan kursi, yakni kelas V.

Sekedar diketahui,  anggaran pengadaan mebeler di Dinas Pendidikan Kota Bekai  pada tahun 2015 lalu sebesar Rp18 miliar untuk 160 paket mebeler bagi seluruh SDN Kota Bekasi.
Namun anggaran sebesar Rp18 miliar tersebut tidak terserap hingga akhir tahun 2015 lalu. Dinas Pendidikan Kota Bekasi kemudian kembali menganggarkan pembelian mebeler tahun ini, namun hanya disetujui  Rp10 miliar. (ran)