Masuknya Warga Tionghoa di Kecamatan Babelan

TEMPAT IBADAH: Wihara Dharma Paramita yang berada di Kecamatan Babelan, menjadi saksi bisu perkembangan warga Tionghoa di wilayah tersebut.FOTO:MAR/RADAR BEKASI

POJOKJABAR.com, BABELAN – Kecamatan Babelan yang berada di utara Kabupaten Bekasi memiliki cerita sendiri sebagai daerah yang memiliki nilai historis tinggi, sejumlah catatan sejarah menyebut bangsa Tionghoa juga sempat jaya di wilayah Babelan.

Dahulu wilayah Babelan disebut sebagai daerah kaya akan sumber daya alamnya,  tidak hanya soal pertanian namun perut buminya juga sudah terdeteksi sejak lama memiliki potensi alam luar biasa, praktis di Babelan saat ini berdiri pengeboran minyak di sejumlah titik yang
masih eksis beroperasi.

Nama Babelan sendiri menurut catatan sejarah berasal dari nama seorang tuan tanah asal Tionghoa bernama “Baba Lan”. Dia menguasai tanah yang letaknya di sepanjang pantai Bekasi yang luasnya kurang lebih 17 kilometer persegi. Maka daerah tersebut sering dipanggil oleh warga setempat saat itu dengan sebutan nama tanah “Baba Lan”.

Tokoh Masyarakat Babelan Muhamad Yusuf Alwy (59) mengatakan,  dari turun temurun Dahulu daerah Bekasi memang banyak dihuni oleh etnis Tionghoa, seiring waktu berjalan kemudian datanglah rombongan orang-orang dari Jakarta yang menempati tanah tersebut, dengan logat bicara melayu betawi kental dengan huruf “e” maka kemudian mereka menyebut daerah tersebut dengan nama “Babe Lan” dan akhirnya menjadi nama daerah tersebut hingga saat ini.


“Dulu memang di sini dikuasasi oleh orang-orang Tionghoa dan sampai sekarang juga masih banyak keturunan-Tionghoa di sini, bahkan mereka tersebar di tiga RT,” ujarnya kepada Radar Bekasi.

Ia menyebut bangsa Tionghoa di Babelan juga sempat menguasai perekonomian setempat, pusat-pusat perdagangan juga lebih dari 40 persen dikuasai mereka. Namun seiring berjalannya waktu saat ini jumlah warga Tionghoa mulai menyusut. Meski demikian lanjutnya perkampungan yang didominasi warga Tionghoa masih tetap eksis yang tersebar di 3 RT di Desa Babelan Kota.

“Untuk perkampungannya sendiri tersebar di tiga RT, mereka berkumpul di lokasi itu semua adanya wihara di Babelan juga sebagai bukti bangsa Tionghoa di Babelan cukup eksis,” ungkapnya. (*)