Pedagang Ayam Beralih Jadi Nelayan

AYAM LESU: Iwan sedang memasukkan ayam miliknya ke dalam boks. Meski mengalami penurunan harga, namun harga daging ayam dinilai belum stabil sehingga pedagang daging ayam di Kecamatan Muaragembong beralih profesi menjadi nelayan.
AYAM LESU: Iwan sedang memasukkan ayam miliknya ke dalam boks. Meski mengalami penurunan harga, namun harga daging ayam dinilai belum stabil sehingga pedagang daging ayam di Kecamatan Muaragembong beralih profesi menjadi nelayan.
AYAM LESU: Iwan sedang memasukkan ayam miliknya ke dalam boks. Meski mengalami penurunan harga, namun harga daging ayam dinilai belum stabil sehingga pedagang daging ayam di Kecamatan Muaragembong beralih profesi menjadi nelayan.

POJOKSATU.id, MUARAGEMBONG – Pedagang ayam di wilayah Kecamatan Muaragembong mulai beralih profesi menjadi nelayan. Hal itu terjadi sebagai imbas dari tidak normalnya harga daging ayam yang naik sebesar Rp5 ribu.

Kepala Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pantai Mekar, Subarna mengatakan, dirinya menemukan sedikitnya dua orang pedagang ayam yang beralih profesi menjadi nelayan. Meski penghasilan seorang nelayan tidak menentu, namun menurut Subarma menjadi daya tarik sendiri untuk pedagang ayam beralih profesi. Apalagi dengan kondisi melonjaknya harga daging ayam yang semakin mempersulit pedagang saat ini.

“Kalau ikan kan sekalipun nggak nentu dapatnya sehari berapa, tapi paling tidak ada kepastian jual, TPI pasti beli,” katanya.

Berbeda dengan omzet penjaulan ayam yang saat ini harganya masih belum  stabil, ikan dianggap lebih mendatangkan keuntungan sehingga pedagang beralih menjadi nelayan.


Terpisah, pemilik pangkalan ayam di Desa Kebalen, Iwan membenarkan kenaikan harga ayam yang sampai saat ini belum stabil. Kata dia, tidak menutup kemungkinan juga harga di beberapa wilayah lebih tinggi jika dibandingkan dengan Bekasi.

“Sekarang turun perlahan dari Rp24 ribu per kilogram, tapi memang belum stabil normal, makanya saya juga kaget kalau ada wilayah tertentu yang harganya belum turun,” ungkapnya.

Disinyalir, masalah akses yang sulit, distribusi yang jauh dan belum beraninya pangkalan menjadi penyebab harga ayam di sejumlah wilayah masih tinggi.

Iwan sendiri menilai kondisi seperti sekarang ini hanya berlaku sementara dan bakal kembali normal dalam waktu dekat. Hal itu terjadi setelah distirbusi kembali lancar ke sejumlah konsumen di wilayah.

“Awal bulan semua mungkin sudah normal lagi. Soalnya kalau sekarang harga daging ayam sendiri masih rentan dan masih naik turun,” tutupnya. (ich)