Disbimarta Akui Kurang Sosialisasi

MASIH DIKERJAKAN: Perbaikan Jalan KH.Noer Ali sisi Kalimalang masih terus berlanjut meski sudah diprotes oleh warga Perumahan Villa Baru di RT 08 RW 02, Pekayon, Bekasi Selatan. ARIESANT/RADAR BEKASI
MASIH DIKERJAKAN: Perbaikan Jalan KH.Noer Ali sisi Kalimalang masih terus berlanjut meski sudah diprotes oleh warga Perumahan Villa Baru di RT 08 RW 02, Pekayon, Bekasi Selatan. ARIESANT/RADAR BEKASI
MASIH DIKERJAKAN: Perbaikan Jalan KH.Noer Ali sisi Kalimalang masih terus berlanjut meski sudah diprotes oleh warga Perumahan Villa Baru di RT 08 RW 02, Pekayon, Bekasi Selatan. ARIESANT/RADAR BEKASI

POJOKSATU.id, BEKASI – Akibat kurangnya komunikasi dan sosialisasi perbaikan Jalan KH.Noer Ali sisi Kalimalang, Kota Bekasi, menimbulkan protes dari warga yang tinggal di Perumahan Villa Baru, RT08/02 Kelurahan Pekayon, Bekasi Selatan. Pasalnya, poisisi jalan yang diperbaiki lebih tinggi dari lokasi perumahan warga sekitar.

Menurut Kabid Dinas Bina Marga dan Tata Air (Disbimarta) Kota Bekasi,  Arief Maulana, perbaikan jalan tersebut  sudah dikomunikasikan dengan pihak Kelurahan dan Kecamatan Bekasi Selatan.

“Kami menyayangkan, kenapa belum ada komunikasi antara kontraktor dengan pihak kelurahan dan kecamatan, serta warga sekitar,” ucapnya heran.

Kata dia, pihaknya tidak ingin saling menyalahkan, tapi akan berupaya untuk mengkomunikasikan dengan baik. Sehingga ketika ada pengerjaan pembangunan infrastruktur, masyarakat tidak keberatan dan dirugikan.


“Sebelum memulai pengerjaan infrastruktur, kami selalu mensosialisasikannya kepada pihak kelurahan, kecamatan serta instansi terkait, seperti kepolisian maupun Dishub. Namun karena sosialisasinya kurang, sehingga tidak sampai kepada masyarakat,” ujarnya membela diri.

Diberitakan sebelumnya, warga Perumahan Villa Baru di RT 08 RW 02, Pekayon mengeluhkan perbaikan jalan sisi Kalimalang, karena dinilai tidak sesuai dengan spesifikasi serta mengabaikan analisis dampak lingkungan (Amdal).

Apalagi jalan yang menghubungkan akses Metropolitan Mal dengan Grand Metropolitan ini struktur jalannya lebih tinggi dari permukiman warga yang berada di perumahan tersebut.

Heri Budi Susetyo, selaku Ketua RT 08 yang juga tokoh masyarakat setempat mengatakan, pihak Perumahan Villa Baru sebenarnya mendukung proses perbaikan jalan asalkan sesuai dengan spesifikasi dan tidak merugikan masyarakat di sekitar perumahan.

”Jadi ketika melihat badan jalan lebih tinggi dari lokasi perumahan, maka air hujan akan masuk ke perumahan, dan tidak tertutup kemungkinan berdampak banjir,” tegasnya.

Heri pun menyayangkan sikap dinas terkait maupun pihak kontraktor yang perbaikan jalan yang tidak melakukan komunikasi dengan masyarakat di Perumahan Villa Baru, sehingga menurutnya,  kepentingan masyarakat diabaikan. Padahal, masyarakat yang tinggal di perumahan ini merupakan proyek group Metropolitan Land.

”Kami pernah panggil pihak kontraktornya, dan saat itu kami meminta ada solusi dari pihak pengembang jika masyarakat perumahan terkena dampak banjir akibat perbaikan yang tidak memperhatikan Amdal tersebut, namun sampai saat ini belum ada kepastian. Memang perumahan yang kami tempati ini setiap hujan turun lebat pasti banjir, namun dengan adanya perbaikan jalan ini akan lebih parah lagi,” sesalnya.

Warga pun mempertanyakan proses perbaikan jalan yang panjangnya lebih dari 300 meter dengan lebar 18 meter ini dan menghabiskan anggaran sebesar Rp5 miliar. Padahal sewajarnya perbaikan tersebut hanya cukup dengan dana Rp3 miliar.

”Ini ada indikasi permainan antara pihak kontraktor dengan pihak dinas terkait, terlebih lagi ini terlihat sekali untuk kepentingan pengelola Mal Metropolitan dan Grand Metropolitan, karena memang jalan tersebut tidak rusak parah seharusnya dengan tambal sulam juga perlu, dan kalau mau diperbaiki seharusnya tidak ditimpa langsung beton yang lama, melainkan ada pengerukan terlebih dahulu,” sesal Rizal warga Perumahan Villa Baru. (and)