Pedagang Tempe Ancam Mogok Jualan

UKURAN MENGECIL: Pembeli tempe terlihat sedang menawar tempe yang saat ini ukurannya menjadi semakin mengecil lantaran melemahnya tukar rupiah terhadap dolar.
UKURAN MENGECIL: Pembeli tempe terlihat sedang menawar tempe yang saat ini ukurannya menjadi semakin mengecil lantaran melemahnya tukar rupiah terhadap dolar.
UKURAN MENGECIL: Pembeli tempe terlihat sedang menawar tempe yang saat ini ukurannya menjadi semakin mengecil lantaran melemahnya tukar rupiah terhadap dolar.

POJOKSATU.id, CIKARANG UTARA – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat melambungnya harga kedelai sebagai bahan baku tempe. Hal itu membuat pedagang tempe berencana melakukan mogok jualan menuntut turunnya harga kedelai. “Kalau sampai seminggu harga kedelai nggak turun juga, kita akan kompak mogok jualan,” ungkap seorang pedagang tempe di Pasar Cikarang, Hasan (33), Rabu (26/8).

Dia menjelaskan, tingginya harga kedelai impor yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu sangat mempengaruhi pendapatan pedagang tempe.

Pihaknya meminta kepada pemerintah untuk menekan harga kedelai sehingga penghasilan mereka bisa lebih stabil tak dipengaruhi dengan melemahnya nilai tukar rupiah. “Kalau bisa segera ditekan lah harga kedelai, kalau begini terus pedagang kecil kayak kita bisa gulung tikar,” sambungnya.

Pedagang di Pasar Tradisional Cikarang sendiri terpaksa harus memperkecil ukuran tempe dan tahu setelah bahan baku kedelai mengalami kenaikan.


Pedagang lainnya, Junaidi (35) mengatakan ukuran tempe dan tahu yang dijual terpaksa diperkecil karena menyesuaikan bahan baku yang terus bertahan mahal.

“Ukuran tempe terpaksa dikecilkan, karena bahan baku kedelainya kan kita dapet dari impor jadi harga menyesuaikan dolar,” jelasnya.

Menurutnya harga tahu dan tempe tidak mengalami kenaikan namun para pedagang hanya memperkecil ukuran mulai yang terkecil dijual Rp3000 dan ukuran besar dijual Rp6000. (mar)