Kali Mati Mematikan Harapan Warga

PENDANGKALAN: Kali dengan lebar 12 meter dan kedalaman tujuh meter ini sudah tidak berfungsi dengan baik dan mengalami pendangkalan hingga hanya tersisa dua meter saja, padahal kehadirannya sangat membantu warga khususnya pada saat kemarau.
PENDANGKALAN: Kali dengan lebar 12 meter dan kedalaman tujuh meter ini sudah tidak berfungsi dengan baik dan mengalami pendangkalan hingga hanya tersisa dua meter saja, padahal kehadirannya sangat membantu warga khususnya pada saat kemarau.
PENDANGKALAN: Kali dengan lebar 12 meter dan kedalaman tujuh meter ini sudah tidak berfungsi dengan baik dan mengalami pendangkalan hingga hanya tersisa dua meter saja, padahal kehadirannya sangat membantu warga khususnya pada saat kemarau.

POJOKSATU.id, BABELAN – Di Kecamatan Babelan, khususnya di Kampung Tambunmagih, Desa Bunibakti ada kali yang disebut dengan nama kali mati. Di mana sebutan tersebut disematkan karena tidak mengalirnya air kali seperti kali-kali lainnya.

Dikatakan oleh warga RT 20/011, Karat, sudah lebih dari satu dekade kali tersebut tidak mengalir, padahal kali tersebut berfungsi sangat vital untuk petani dan warga sekitar. Usut punya usut, tidak mengalirnya kali, menurut Karat, cenderung dikarenakan terjadinya penyempitan dan menumpuknya eceng gondok serta sampah di muara kali, yakni di Desa Kedungpengawas.

“Di Kedungpengawas itu kan sudah terjadi penyempitan untuk pemukiman sama ruko, jadinya ya seperti ini, banyak sampah, eceng gondok, jadilah airnya nggak mau ngalir,” ujarnya.

Menurutnya, tindakan pihak desa selama ini tidak membantu banyak, khususnya untuk petani, di mana pada saat ini petani tidak bisa lagi menanam lebih dari satu kali dalam satu tahun dikarenakan kali sumber air sudah tidak dapat diandalkan.


“Selama ini desa hanya semprot eceng gondok saja biar mati, tapi gak melakukan pengerukan atau normalisasi, jadinya petani sini dirugikan, gak bisa mereka nyawah dua kali dalam satu tahun,” ungkapnya.

Di lain tempat, seorang petani, Rohimin (48), mengatakan air dari kali mati tidak bisa untuk mengairi sawah dan dirinya selama ini hanya dapat mengandalkan hujan saja. “Kali di depan itu kan sudah seperti itu, nggak layak, boro-boro untuk ngairin sawah, untuk basahin kebon seperti kangkung saja sudah nggak bisa,” keluhnya.

Selama belum datangnya hujan, Rohimin mengaku alih profesi menjadi seorang peternak yang menurutnya akan lebih baik dari pada harus berjudi dengan menanam padi.

“Sekarang andelin dari ternak bebek saja, soalnya nyawah juga belum tentu hasilnya bagus, terlalu tinggi risiko gagal panen,” imbuhnya. (ich)