Waspada, Narkoba Semakin Merajalela

MUSNAH : Muspida mengecek barang bukti sebelum dimusnahkan di halaman kantor Kejaksaan Negeri Cikarang, Senin (24/8).
MUSNAH : Muspida mengecek barang bukti sebelum dimusnahkan di halaman kantor Kejaksaan Negeri Cikarang, Senin (24/8).
MUSNAH : Muspida mengecek barang bukti sebelum dimusnahkan di halaman kantor Kejaksaan Negeri Cikarang, Senin (24/8).

POJOKSATU.id, CIKARANG PUSAT – Narkoba kini sudah menjadi ancaman serius di Kabupaten Bekasi. Pasalnya, saat kegiatan pemusnahan barang bukti hasil kejahatan Senin (24/8), narkoba menduduki peringkat teratas dengan jumlah barang bukti terbanyak ketimbang hasil kejahatan lainnya.

Berdasarkan data dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Cikarang, saat pemusnahan barang bukti, terdapat 271 perkara yang menyangkut narkoba. Dari ratusan perkara itu, sebanyak 168 perkara di antaranya jenis ganja dengan barang bukti sebanyak 10,265,6196 gram.

Sementara untuk perkara jenis sabu, Kejari memusnahkan barang bukti sebanyak 129,2270 gram dengan 1000 perkara. Untuk jenis ekstasi terdapat tiga perkara dengan barang bukti sebanyak 205 butir.

“Semuanya merupakan hasil dari barang bukti tahun 2014 hingga Juli 2015 yang memang mempunyai kekuatan hukum tetap dengan inkrah dari pengadilan baik Pengadilan Negri hingga ke kasasi,” ucap Kepala Kejari Cikarang, Muhamad Teguh Darmawan.


Selain narkoba, pihak kejaksaan juga memusnahkan barang bukti lainnya dari hasil kejahatan. Seperti 10 pucuk senjata api rakitan dan 11 air soft gun yang merupakan hasil dari 14 perkara kejahatan, dan uang palsu sebanyak Rp151,595 juta dari berbagai pecahan.

Sedangkan hasil perkara kejahatan yang berkaitan dengan Undang-undang Kesehatan, kejaksaan memusnahkan barang bukti berupa 265 butir pil merek MF warna kuning dan 22 strip obat merek tramodol.

“Semuanya dimusnahkan dengan dibakar sedangkan senjata api dipotong dengan alat potong gerinda,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Bekasi, Rohim Mintareja menyadari jika saat ini banyak kasus narkoba di wilayahnnya dan mengancam siapa saja. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memerangi narkoba agar peredarannya bisa diminimalisir.

Rohim mengakui jika pemberantasan narkoba selama ini belum berjalan dengan maksimal. Ia beralasan jika hal itu disebabkan karena tidak adanya anggaran di APDB tahun ini untuk pemberantasan narkoba.

“BNK  mengajukan anggaran untuk kegiatan sosialisasi menyusul tingginya angka peredaran narkoba,” katanya. (dho)