Waduhhh..Ibu-ibu Buru Cabai Oplosan

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

POJOKSATU.id, BEKASI – Nilai tukar rupiah terhadap dolar kemarin mencapai Rp14.000/dolar. Sejumlah komoditas domestik, seperti cabai ikut terkena imbas. Di sejumlah pasar tradisional di Kota Bekasi, harga cabai mencapai Rp70.000 sampai Rp80.000 per kilogram.

Tingginya kenaikan harga cabai, dan masyarakat belum bisa melepaskan diri dari konsumsi ini, mendorong mereka mencari akal untuk tetap mengkonsumsinya dengan harga yang lebih miring.

Seperti harga cabai rawit merah Rp40.000 per kilogram naik menjadi Rp70.000 per kilogramnya. Cabai merah keriting Rp30.000 per kilogram naik Rp10.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. Sedangkan rawit biasa dari Rp24.000 per kilogram naik menjadi Rp28.000 per kilogramnya.

Untuk memberikan rasa pedas, memaksa konsumen tidak membeli cabai rawit murni, melainkan mengoplosnya dengan berbagai jenis cabai, sehingga konsumen mampu membeli cabai dengan harga normal.


“Kalau beli cabai rawit merah saja udah Rp70 ribu mahal banget, jadi kita campur saja cabainya biar gak mahal tapi tetep pedas,” ucap Rani seorang ibu rumah tangga.

Cabai yang dicampur seperti cabai rawit merah, cabai merah kriting dan rawit biasa. Bila mencapai satu kilogram harganya hanya Rp40 ribu.

Menurut seorang pedagang cabai di Pasar Mustikajaya, Ramdani, musim panas berkepanjangan menyebabkan para petani cabai gagal panen dan diperparah rupiah yang terus melemah.

“Parah banget sekarang, semua barang kebutuhan harganya naik. Kita juga bingung menjual ke konsumen. Ini mulai naik semenjak habis Lebaran sampai sekarang tidak turun-turun malah naik terus,” ucap pedagang berkumis ini, Senin (24/8).

Informasi yang diperoleh Radar Bekasi, Juli 2015 inflasi di Kota Bekasi sebesar 0,81 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 118,84.

Dari tujuh kota IHK di Jawa Barat, tercatat semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Depok 0,95 persen dengan IHK 119,88 sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Bogor 0,49 persen dengan IHK 120,55.

Inflasi di Kota Bekasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks di 6 kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan 1,92 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,59 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahar bakar 0,11 persen, kelompok sandang 0,97 persen,kelompok kesehatan 0,30 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,02 persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 1,11 persen.

Kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi tertinggi sebesar 1,11 persen.

Sub kelompok yang menjadi penyumbang inflasi tertinggi adalah sub kelompok transportasi sebesar 2,50 persen, yang disebabkan karena kenaikan angkutan antar kota. Laju inflasi tahun kalender 2015 “year to date” Kota Bekasi sebesar 1,15 persen dan laju inflasi tahun ke tahun  “year on year” (Juli 2015 terhadap Juli 2014) sebesar 6,27 persen. (dat)