Rupiah Loyo Picu Kenaikan Harga Daging Ayam

DAMPAK DOLAR: Harga jual ayam potong dan daging ayam naik menjadi RP40ribu /ekor gara-gara dampak rupiah loyo.
DAMPAK DOLAR: Harga jual ayam potong dan daging ayam naik menjadi RP40ribu /ekor gara-gara dampak rupiah loyo.
DAMPAK DOLAR: Harga jual ayam potong dan daging ayam naik menjadi RP40ribu /ekor gara-gara dampak rupiah loyo.

POJOKSATU.id, BEKASI – Pedagang ayam di Pasar Baru Bekasi mulai mengurangi stok penjualan ayam potong kepada konsumen. Alasannya, harga jual ayam yang mencapai Rp40.000 per ekor menjadi alasan mengurangi stok, dari 100 kilogram menjadi hanya 70 kilogram.

Para pedagang mengaku, stok minim tersebut dipicu tersendatnya pasokan dari sentra peternakan ayam pedaging. Kenaikan harga yang sudah terjadi hampir satu bulan lamanya tersebut berdampak pada turunnya omzet mereka.

Selain stok yang minim, jumlah pembelian juga berkurang karena konsumen mengurangi jatah belanja daging ayam akibat tingginya harga.

Seorang pedagang daging ayam, Ramli, mengaku omzetnya turun hingga 50 persen akibat kenaikan harga daging ayam tersebut. Ia berharap harga daging ayam kembali normal.


’’Biasanya saat kondisi normal, saya bisa menjual hingga 4 kuintal daging ayam potong setiap hari. Sejak harganya naik, penjualan menurun menjadi 2 kuintal saja,” kata pria yang tak pernah lepas dari kopiahnya.

Pantauan Radar Bekasi, konsumen banyak yang mengurangi jumlah pembelian mereka. Biasanya bisa membeli satu kilogram, kini hanya membeli setengah kilogram atau kadang hanya seperempat kilogram saja.

Di Pasar Jatiasih dan Pondokgede, beberapa lapak penjual ayam terlihat kosong pada hari ini (kemarin). Menurut Suratno, pedagang ayam yang bersebelah dengan lapak kosong tersebut mengatakan, rekannya tidak berdagang karena keterbatasan modal dan stok yang terbatas.

“Teman ada hari ini nggak dagang. Nggak ada modalnya. Ada juga yang rebutan stok sama pedagang lain, gara-gara stoknya terbatas dari peternak. Nggak kebagian akhirnya nggak dagang,” papar pria yang sehari-hari berdagang di Pasar Pondokgede ini.

Para pedagang memperkirakan kenaikan harga daging ayam tersebut masih akan terjadi. Mereka menilai bila harga belum normal kebutuhan masyarakat akan komoditas tersebut akan menghambat penurunan harganya.

Sementara, kenaikan harga daging ayam, kata Wasimin, di antaranya disebabkan beberapa faktor yaitu musim kemarau yang berkepanjangan, musim panen ayam namun minim pekerjanya, hingga terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menyentuh Rp13.785 per dolar.

“Dolar jelas pengaruh terhadap kenaikan harga daging ayam, hal ini karena bibit ayam menggunakan vitamin dan bahan kesehatan lainnya dari negara luar. Jadi ada dampak dari melemahnya rupiah terhadap dolar yang ikut memicu harga daging ayam naik,” jelas pria yang juga politisi PDI Perjuangan itu.

“Pemerintah harus segera bertindak dan menstabilkan harga rupiah terhadap dolar, dan kalau sudah stabil harga daging ayam dan kebutuhan pokok pun mengalami penurunan,” pungkasnya. (dat)