Gerus Pendapatan Ojek Pangkalan

Ojek
OJEK PINTAR: Ojek online yang beroperasi di Bekasi sudah mulai banyak. Mereka pintar mencari pelanggan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi gadget dan internet. ARIESANT/RADAR BEKASI
OJEK PINTAR: Ojek online yang beroperasi di Bekasi sudah mulai banyak. Mereka pintar mencari pelanggan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi gadget dan internet. ARIESANT/RADAR BEKASI

POJOKSATU.id, BEKASI – Keberadaan ojek online yang mulai merambah Kota Bekasi membuat ojek pangkalan mulai merasa tersaingi. Mereka was-was hingga cemburu dengan kehadiran ojek online yang terkesan eksklusif. Apalagi, pendapatan mereka cenderung terus merosot sejak hari ke hari.

Yadi, misalnya, lelaki asal Karawang ini, telah puluhan tahun mangkal di Jalan Maluku 8 Perumnas 3 Kelurahan Arenjaya, Bekasi Timur. Pada awal tahun 2000, dia mengaku dalam sehari mampu mengumpulkan uang hasil ojek sekitar Rp70 ribu sampai Rp100 ribu. Belakangan, hari demi hari pemasukan terus berkurang karena persaingan ojek yang semakin banyak. Saat itu belum hadir ojek online.

“Waktu awal-awal mangkal di sini masih sepi ojeknya. Penumpangnya ramai. Bisa pulang kampung seminggu sekali bawa pulang yang lumayan. Tapi sekarang susah,” kata pria dengan dua anak ini.

Menurut Yadi, keberadaan ojek online akan menggerus keberadaan ojek tradisional atau ojek pangkalan. Sebab, tukang ojek pangkalan gagap teknologi. Sementara ojek online sudah tidak asing lagi dengan teknologi, seperti mengoperasikan smartphone. “Boro-boro megang handphone bagus, mendingan juga buat ngirim ke kampong. Kalau mereka kan pake handphone bagus,” paparnya.


Terancamnya nasib ojek tradisional juga dirasakan, Ganda, pria yang turut mengajak anak lelakinya menjadi pengemudi ojek pangkalan. Dia merasa mata pencaharianya semakin hari semakin menurun drastis. Dalam sehari, pria paruh baya ini, hanya mampu mengumpulkan uang sebanyak Rp20 ribu. Berbeda jauh dengan penghasilan yang diperoleh pengemudi ojek online yang bisa mencapai Rp700 ribu per harinya.

“Paling Rp20 ribu sehari dapetnya buat makan dan bensin aja habis. Pernah seharian mangkal di pangkalan cuma dapat Rp5000. Anak saya juga sama dapetnya paling besar Rp50 ribu sehari,” ungkap pria kelahiran Cikarang, Kabupaten Bekasi ini.

Pihaknya berharap, pemerintah bisa mengatur keberadaan ojek online agar tidak mengambil rezeki ojek pangkalan. Walaupun tidak mangkal, ojek online tetap menjadi ancaman bagi ojek tradisional dan agar tidak terjadi gesekan sesama anak bangsa.

Pengojek pangkalan memang harus sabar menunggu pengguna jasa mereka. Apalagi mereka harus antre berjam-jam dengan sesama pengojek pangkalan. Sekian jam menunggu, bisa–bisa mereka hanya gigit jari karena penumpang tidak datang. Sementara mereka hanya menunggu kedatangan calon penumpang. Dalam satu pangkalan bisa terdapat lima sampai sepuluh ojek yang ngetem.

Terpisah, pengemudi ojek online enggan disebut merebut rezeki ojek pangkalan. ’’Siapa yang merebut langganan mereka. Kita tidak ambil pelanggan di jalan. Kita malah jemput mereka dari lokasi. Jadi, bukan ngambil penumpang di jalan,’’ ketus Samsul, tukang ojek online. (dat)