Pedagang Daging Sapi Alih Profesi Jual Daging Ayam

bahan pangan daging
ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

POJOKSATU.id, BEKASI – Aksi mogok berjualan para pedagang sapi yang dilakukan sejak Sabtu (8/8) hingga kemarin belum berakhir. Daging sapi tetap menghilang. Padahal, kebutuhan daging sapi potong untuk warga di Kota Bekasi terbilang tinggi.

Dalam keadaan normal, pasokan daging sapi ke pasar tradisional seperti Pasar Baru, Pasar Jatiasih, Pasar Pondokgede, Pasar Kranji, dan Pasar Bantargebang, masing-masing pasar dipasok 50 kilogram per hari. Total pasokan daging sapi yang hilang dari Kota Bekasi selama enam hari mencapai 900 kilogram atau hampir satu ton. Ini berarti setiap hari warga Bekasi menyantap 150 kilogram daging sapi.

Bagi para pengusaha daging sapi, potensi keuntungan dari berjualan sapi relatif besar. Dalam sehari, mereka bisa mengeruk keuntungan bersih sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Nah, akibat aksi mogok itu, hingga Rabu (8/8) kemarin mereka menderita kerugian hingga Rp5,5 juta per pedagang.

Nah, lantaran tak ingin berlama-lama tidak berjualan, khawatir modal dagang habis tidak karuan, para pedagang daging sebagian beralih menjual daging ayam. Tak pelak, permintaan daging ayam pun meningkat tajam. Harga daging ayam pun melonjak dari semula Rp35.000 per ekor kini menjadi Rp40.000 per ekor.


Data yang dihimpun Radar Bekasi, dalam sehari untuk mencukupi kebutuhan daging sapi, Rumah Potong Hewan (RPH) memotong 50 sapi impor yang disebar ke berbagai pasar tradisional, seperti Pasar Baru Kota Bekasi, Pasar Kranji, Pasar Jatiasih, Pasar Pondokgede dan Pasar Bantargebang. Para pedagang daging sapi biasanya mendapatkan pasokan sekitar 30 sampai 50 kilogram per hari dan disesuaikan dengan kebutuhan. Bila ada permintaan lebih barulah stok daging ditambah.

Dalam sehari, dari hasil penjualan daging ke masyarakat, pedagang mendapatkan keuntungan sekitar Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. Kalau dihitung rata-rata sejak hari pertama aksi mogok sampai Rabu (12/8) pedagang menderita kerugian Rp5,5 juta.

Tak pelak, kondisi ini membuat pedagang tidak bisa mengambil pilihan, sebab bila membeli daging saat ini tentu membutuhkan modal besar. Dengan kenaikan harga sebesar Rp2.000 – Rp4.000 per kilogram, membuat konsumen memilih tidak membeli daging sapi, akhirnya pedagang memilih tidak berjualan.

Untuk mensiasati pemasukan sehari-hari, beberapa pedagang beralih menjual ayam potong. Seperti yang dilakukan Imran yang kesehariannya sebagai pedagang daging sapi, saat ini berdagang daging ayam potong.

“Mau jualan daging sapi modalnya besar, barangnya juga langka. Mau gak mau jual ayam dulu sampai keadaan normal, dari pada nggak dapet uang,” kata pria yang membuka lapak di Pasar Jatiasih, Rabu (11/8).

Bapak dua anak ini menegaskan, pemerintah harus segera menstabilkan pasokan sapi, hingga harga kembali normal. Dirinya pun belum mengetahui sampai kapan aksi mogok berjualan karena belum mendapat pemberitahuan lanjutan.

“Katanya sampai hari Rabu, tapi kalau keadaan tidak berubah, katanya diperpanjang. Belum tahu juga nih nasibnya gimana,” imbuhnya.

Hal yang serupa juga dialami Awang, pedagang daging sapi di Pasar Bantargebang yang hanya menunggu kepastian stok daging sapi kembali normal. “Maunya dagang yang lain, tapi takut modalnya habis, ntar nggak bisa jualan daging sapi lagi kalau keadaan sudah normal, jadi tunggu aja,” paparnya.

Para pedagang sapi, yang saat ini mogok berjualan juga berniat akan ikut turun ke jalan menyuarakan nasibnya bila memang rencana demo besar-besaran ke Istana jadi dilaksanakan. “Katanya kalau nggak ada tindakan dari pemerintah pedagang mau demo ke Istana,” ujarnya.

Terpisah, Sekdispera Kota Bekasi, Deded Kusmayadi, rencananya akan melakukan pemotongan 15 ekor sapi di RPH Telukpucung yang bekerja sama dengan pengusaha sapi untuk mengantisipasi kelangkaan daging.

“Ini baru rencana tapi mudah-mudahan jadi. Insya Allah nanti malam (tadi malam) akan dilakukan pemotongan 15 ekor sapi untuk disebar ke pasar-pasar tradisional,” tuturnya.

Jelas Deded, untuk masalah harga jual daging sapi, pihaknya belum bisa memastikan harga jual di pasaran. Imbauan untuk pengusaha daging agar tidak menjual dengan harga tinggi.

“Harga jual memang belum dipastikan, tapi saya berharap ada kerjasama dengan pengusaha untuk harga jual nanti tidak terlalu tinggi,” pungkasnya. (dat)