Pemkot Minta Pemerintah Atur Ulang Tata Niaga Daging

SEPI: Pekerja di Rumah Potong Hewan (RPH) di Bekasi Utara tengah membersihkan kandang sapi, Senin (10/08). Dampak dibatasinya kuota daging sapi impor oleh pemerintah pusat, RPH di Kota Bekasi mogok kerja. ARIESANT/RADAR BEKASI
SEPI: Pekerja di Rumah Potong Hewan (RPH) di Bekasi Utara tengah membersihkan kandang sapi, Senin (10/08). Dampak dibatasinya kuota daging sapi impor oleh pemerintah pusat, RPH di Kota Bekasi mogok kerja.  ARIESANT/RADAR BEKASI
SEPI: Pekerja di Rumah Potong Hewan (RPH) di Bekasi Utara tengah membersihkan kandang sapi, Senin (10/08). Dampak dibatasinya kuota daging sapi impor oleh pemerintah pusat, RPH di Kota Bekasi mogok kerja. ARIESANT/RADAR BEKASI

POJOKSATU.id, BEKASI – Harga daging sapi potong yang melambung tinggi, tidak hanya membuat pedagang daging gigit jari. Sejumlah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Kota Bekasi ikut terkena dampaknya. Para tukang jagal atau pemotong sapi banyak yang menganggur, sebagian lainnya memilih pulang kampung.

Salah satunya terlihat di RPH di Jalan Perjuangan No 1 RT 3 RW 2 Kelurahan Harapan Baru. Suasana di RPH ini sepi, tidak ada aktivitas pemotongan hewan.

Dari pantauan Radar Bekasi, lelaki yang sudah belasan tahun menjadi tukang potong hewan, Supriadi harus menganggur sampai ada pasokan kembali ke RPH. Dan tidak memasok daging sapi ke pasar tradisional di Kota Bekasi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun sampai saat ini pedagang masih melakukan mogok untuk tidak menjual daging sapi. Walaupun ada hanya sedikit pedagang yang menghabiskan stok lama.


“Ya mau gimana lagi nunggu keadaan normal aja, teman-teman saya sebagian ada yang pulang kampung, nunggu di kampung aja, nanti kalau sudah normal baru balik lagi ke mari,” paparnya.

Supriadi menambahkan, dirinya memang sudah mendapatkan kabar kalau ada aksi pemogokan akibat harga jual di pasaran tinggi. Sehingga pedagang susah menjual daging sapi, sementara pembeli juga beralih tidak membeli daging sapi dulu.

Sementara itu, berdasarkan pantauan, sejumlah lapak pedagang daging sapi di Pasar Baru, Bekasi Timur, beberapa pedagang tampak menjual jeroan ayam potong untuk mencari pemasukan pengganti daging sapi.

“Dari pada gak bisa jualan gak dapat duit, mendingan jual yang bisa dijual aja dulu,” ungkap salah seorang pedagang, Senin (10/8).

Kondisi yang tidak menentu ini membuat Kadisperindagkop Kota Bekasi, Aceng Solahudin, berencana akan mengadakan operasi pasar di beberapa titik, guna memenuhi kebutuhan daging di masyarakat. Bekerja sama dengan bulog sehingga masyarakat dapat memanfaatkan operasi pasar untuk mendapatkan daging sapi murah dengan kondisi baik dan halal.

“Ini sudah menjadi isu nasional, kami hanya mengantisipasi kelangkaan daging di pasaran, karena daging menjadi kebutuhan pokok makanan yang masuk di dalam empat sehat lima sempurna,” tandasnya.

Pihaknya akan mengkaji sistem operasi pasar daging murah. Seperti pemilihan tempat, harga serta masyarakat membeli daging sapi tersebut.

“Tempat nanti kita posisikan baiknya dimana, pasar atau langsung ke pemukiman warga yang jelas lurah camat juga dilibatkan, sebab nantinya pakai sistem kupon, jangan sampai kita bawa 50 kilogram daging tau-tau gak ada yang beli. Karena kurang sosialisasi,” tuturnya.

Aceng juga meminta pemerintah pusat harus secepatnya menyelesaikan permasalahan ini dan menjadikan pengelolaan tata niaga daging. Sampai saat ini, pihaknya tidak mengetahui di mana importir daging dan siapa yang menjadi pemasok daging ke Kota Bekasi, sehingga susah melacaknya. ’’Apakah ini ada permainan importir untuk menjual harga tinggi atau ada hal-hal lain yang jadi penyebab melambungnya harga daging sapi,’’ cetusnya.

Kalau ini terus dibiarkan, kata, Aceng akan memicu inflasi di berbagai daerah. Yang dimainkan para importir atau pedagang nakal. Seharusnya harga daging sapi lebih murah dibandingkan harga daging impor.

Karena asumsinya sapi lokal tidak ada, biaya impor pangan juga tersedia dan tersedianya bahan pangan yang cukup, asalkan para peternaknya mau mempertahankan menernak sapi dan dapat memenuhi kebutuhan daging di dalam negeri.

“Padahal daging sapi impor membutuhkan cost yang lumayan. Karena dikirim dari luar negeri, tapi kenapa sapi impor lebih murah. Karena stoknya banyak jadi murah, kalau sapi lokal jarang itu yang mengakibatkan melonjaknya harga sapi lokal,” pungkasnya.

Dia mengatakan, dampak dari aksi mogok masal ini adalah penurunan penghasilan. Malah tidak ada pemasukan sama sekalu.

“Kalau sudah bikin siapa yang harus bertanggung jawab, banyak orang yang menggantungkan hidup dari berjualan daging sapi, ada tukang potong, anak buah yakni tukang potong, tukang rumput, tukang kandang, sopir, tukang jual ke pasar tidak memperoleh penghasilan selama mogok dagang. Masyarakat konsumen pun terkena dampaknya. Kami minta agar pemerintah segera menyelesaikan keluhan para pedagang daging sapi ini,” imbuhnya. (dat)