Kota Bekasi Menuju Smart City

KONDISI BANGUNAN: Beginilah kondisi bangunan di Jalan Ahmad Yani, dimana saat ini Dinas Tata Kota (Distako) sedang merancang pembangunan Kota Bekasi menuju smart city. ARIESANT/RADAR BEKASI
KONDISI BANGUNAN: Beginilah kondisi bangunan di Jalan Ahmad Yani, dimana saat ini Dinas Tata Kota (Distako) sedang merancang pembangunan Kota Bekasi menuju smart city. ARIESANT/RADAR BEKASI
KONDISI BANGUNAN: Beginilah kondisi bangunan di Jalan Ahmad Yani, dimana saat ini Dinas Tata Kota (Distako) sedang merancang pembangunan Kota Bekasi menuju smart city. ARIESANT/RADAR BEKASI

POJOKSATU.id, BEKASI – Kota-kota di berbagai belahan dunia saat ini berlomba-lomba menerapkan konsep smart city atau kota pintar. Bukan hanya di negara maju saja, tetapi juga di Indonesia, termasuk Kota Bekasi.

Kepala Bidang Perencanaan Dinas Tata Kota (Distako) Bekasi, Erwin Guwinda menuturkan, konsep smart city ini berkembang sesuai dengan dinamika tantangan yang dihadapi dalam pengembangan kota. Beberapa isu penting adalah masalah lingkungan hidup, khususnya pemanasan global, keterbatasan sumber daya dan energi, pertumbuhan populasi, termasuk di dalamnya masalah urbanisasi.

”Berbagai kebijakan Pemerintah Kota (PemKot) Bekasi saat ini sudah mengarah ke program itu. Apalagi dengan rata-rata pertumbuhan penduduk Kota Bekasi mencapai empat persen per tahun, sehingga cukup membuat kewalahan sekitar 13 ribu Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk melayani sekitar 2,8 juta penduduk Kota Bekasi,” katanya kepada Radar Bekasi, Senin (10/8).

Namun menurut Erwin, persoalan tersebut tidak bisa ditanggulangi oleh pemerintah saja, tapi juga harus didukung semua lapisan masyarakat mulai dari pengusaha dan instansi lainnya.


“Untuk mewujudkan kota smart city itu harus membutuhkan banyak modal. Mustahil jika mengandalkan keuangan pemerintah daerah mampu membangun infrastruktur smart city, sehingga butuh peran pengusaha untuk  menanamkan investasinya,” terang Erwin.

Ia menjelaskan, smart city tidak hanya sebatas kecanggihan teknologi, tapi juga harus melakukan perbaikan lingkungan, energi, sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan, sosial, infrastruktur,  dan lainnya.

Kata Erwin, pihaknya saat ini sedang menggarap penggunaan mesin parkir meter yang sudah resmi diberlakukan pada awal Juli 2015.

Dia mengakui, banyak versi definisi dari smart city. Salah satunya menyatakan bahwa smart city adalah kota yang menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas layanan kota yang ramah lingkungan secara lebih efisien dan untuk meningkatkan efektivitas interaksi dengan warganya.

Seperti yang didefinisikan Sarwant Singh, ada delapan aspek utama dari smart city, yaitu pengelolaan pemerintahan, pemanfaatan energi, gedung, pengaturan mobilitas, infrastruktur, teknologi, layanan kesehatan, dan warga yang pintar atau smart citizen.

”Delapan aspek tersebut akan lebih efektif bila dikembangkan dalam sistem yang terintegrasi,” ujar Sarwant Singh seperti dikutip dari kolomnya di Forbes, kemarin. (and)