Mogok Berjualan, Pedagang Daging Gulung Tikar

bahan pangan daging
ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

POJOKSATU.id, MUSTIKAJAYA – Aksi mogok berjualan para pedagang daging sapi di Jakarta, berimbas ke Bekasi. Sejumlah pedagang daging di pasar-pasar tradisional, baik di Kota Bekasi maupun Kabupaten Bekasi memilih tak berjualan sementara.

Kabarnya, aksi mogok berjualan itu akan dilakukan mereka hingga Kamis (6/8) mendatang. Alasannya, pemerintah tak mampu menahan gejolak harga daging di pasaran pasca Lebaran yang masih bertahan di angka kisaran Rp120.000 hingga Rp130.000/kilogram. Menyusul dibatasinya importasi daging dari negara yang selama ini menyuplai kebutuhan daging Indonesia, seperti Australia.

Sementara, harga daging sapi lokal sendiri tak mampu memasok kebutuhan daging sapi pengganti daging impor. Alhasil, harga daging sapi lokal di pasaran melonjak hingga mencapai Rp150.000/kilogram. Sejumlah konsumen pun, memilih tak mengkonsumsi daging sapi. Kalau pun harus terpaksa membeli daging, mereka memilih membeli daging ayam.

Di Pasar Mustikajaya, para pedagang sudah tidak menerima stok daging sapi impor dari Australia. Menyusul ada pembatasan kuota impor. Sementara dari daging sapi lokal sangat langka, walaupun ada harga sangat tinggi bisa mencapai Rp150ribu per kilonya.


“Ini tinggal habisin stok daging yang kemarin aja. Kalau stok baru belum ada kiriman, katanya demo nggak kirim daging dulu sampai hari Rabu besok,” ucap Sartim saat ditemui di Pasar Mustikajaya, kemarin (9/8).

Menurut Sartim, tingginya harga daging sapi, membuat stok daging miliknya susah terjual. Masyarakat enggan membeli daging sapi. “Lama keluarnya nih. Harga tinggi banget, belum tau kapan turunnya nunggu keputusan pemerintah terkait pembatasan kuota impor,” keluhnya.

Selain di Mustikajaya, pedagang daging sapi di Pasar Induk Kota Bekasi juga melakukan mogok menjual daging sapi. Mereka mengaku daripada merugi lebih baik tidak menjual daging sapi sementara.

“Daripada kita stok tapi gak ada yang beli, malah rugi. Mendingan gak usah jualan dulu,” kata Narso pedagang daging sapi yang sejak hari Sabtu lalu sudah tidak menjual daging sapi.

Narso menambahkan, bila pemerintah tidak bisa mengatasi permasalahan melonjaknya harga daging sapi ini, maka akan dipastikan pedagang akan beralih tak lagi berjualan daging. Sebab bila menjual daging sapi lokal, harga modalnya sudah tinggi dan susah untuk menjual ke konsumen. Selama ini, pihaknya mengandalkan daging sapi impor dari Australia yang harganya lebih murah ketimbang daging lokal.

“Kata siapa daging lokal murah. Murahan daging impor. Masih dapat untung yang lumayan. Karena harga daging lokal tinggi peminatnya jadi jarang,” tuturnya.

Pantauan Radar Bekasi, di dua pasar tradisional yang berbeda, dalam sehari pedagang mampu menjual 1 kuintal daging sapi. Tapi, semenjak daya beli masyarakat berkurang, hanya bisa menjual 30 kilogram sehari sudah termasuk beruntung. Sementara sampai hari ini harga daging sapi masih bertahan di harga Rp130 per kilogramnya.

Pemerintah sengaja menekan keran impor sapi Australia pada kuartal III ini, yaitu hanya 50 ribu ekor sapi yang masuk ke Indonesia. Kuartal II tahun ini, periode April hingga Juni, sekitar 250 ribu ekor sapi bakalan, 29 ribu sapi potong, dan 1.000 ton secondary cut. Sedangkan untuk kuartal I Januari hingga Maret 2015, izin impornya sebanyak 75 ribu ekor.

Penurunan jumlah impor sapi ini semula diharapkan dapat meningkatkan produksi sapi lokal di pasaran. Kenyataan justru sebaliknya. Hal yang terjadi adalah minimnya pasokan di pasar sehingga harga daging sapi melonjak drastis. (dat)