Kecewa, Asupan Gizi Atlet Tidak Seimbang

BELUM SEIMBANG: Sonia, lifter putri asal Kota Bekasi saat menjalani Pelatda di PABBSI Kota Bekasi. Pelatih menilai asupan gizi atlet Pelatda dari pengurus provinsi belum sesuai harapan.
BELUM SEIMBANG: Sonia, lifter putri asal Kota Bekasi saat menjalani Pelatda di PABBSI Kota Bekasi. Pelatih menilai asupan gizi atlet Pelatda dari pengurus provinsi belum sesuai harapan.
BELUM SEIMBANG: Sonia, lifter putri asal Kota Bekasi saat menjalani Pelatda di PABBSI Kota Bekasi. Pelatih menilai asupan gizi atlet Pelatda dari pengurus provinsi belum sesuai harapan.

POJOKSATU.id, BEKASI – Pelatih atlet Pelatihan Daerah (Pelat­da) Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat akhirnya ang­kat bicara soal kondisi atlet angkat besi yang tengah men­jalani Pelatda PON di Kota Bekasi.

Pelatih yang juga mantan lifter dunia binaan Jawa Barat ini ke­cewa dengan asupan gizi atlet yang tidak diper­hatikan oleh PABBSI Jabar. Padahal, atlet Pelatda kini tengah diporsir latihan per­siapan sebagai persia­pan PON 2016 mendatang.

“Biaya makan Atlet PON Rp50 ribu perhari, dan sehari tiga kali makan. Suplemen Rp10 ribu. Atlet makannya apa? Vitamin-nya apa? dengan anggaran segitu,” terang pelatih Pelatda PON, Sodikin saat ditemui di sela latihan.

Menurutnya, kebutuhan asupan gizi atlet harus seimbang dengan program latihan yang menargetkan suksesi Jabar Kahiji di PON 2016 nanti.


“Saat ini tidak seimbang, ingin prestasi bagus, tapi tidak diba­rengi dengan perhatian akan kebutuhan atlet. Dari pengala­man saya seperti Cina, Korea sa­ngat jauh sekali, di sana fasi­litas bagus, suplemen bagus, sport sain-nya oke,” tegas Sodikin.

Terlebih saat ini sambung dia, kebutuhan akan mess juga masih ditanggung PABBSI Kota Bekasi. “Mess gratis, AC ada, token listrik juga dari sini, belum ditanggung oleh Jawa Barat,” ujarnya kecewa.

Hal senada diungkapkan, Pelatih pelatda PON asal Kota Bogor, Muhammad Minan, ia melihat apa yang diberikan untuk atlet Pelatda saat ini jauh dari seimbang dan harapan.

“Memang kita dilema, ingin target Jabar Kahiji tapi kurang untuk dorongan kesana seperti suplemen dan makan masih kurang,” tegasnya.

Terlebih, kebutuhan kalori untuk atlet angkat besi sangat tinggi, tidak cukup hanya bersumber dari makan tapi juga kebutuhan suplemen.

“Atlet angkat besi ini beda, kebutuhan akan kalorinya. Kita sebagai pelatih, jika gizi, dan asupan makan serta suplemen tidak seimbang kan ngeri. Khawatir atlet mudah sakit dan cedera juga ainnya jika dipaksakan,” paparnya.

Minan mulai memantau atle Pelatda yang bergabung di Ko­ta Bekasi sejak Mei 2015 ini mengaku, perhatian akan kondisi atlet Pelatda dinilainya menurun jika dibandingkan pada 2004 lalu. (one)