Kurang Nendang, Obat Penenang pun Ditenggak

Print

POJOSKATU.id, BEKASI – Pil kuning atau tablet hexyme kini banyak diburu anak muda, bahkan remaja. Padahal, obat untuk penderita Parkinson dan gangguan ekstrapiramidal yang disebabkan susunan saraf pusat itu tidak sembarangan dijual. Karena tergolong obat keras, pembelinya harus menggunakan resep dokter.

Nyatanya, obat berwarna kuning mencolok itu justru menjadi primadona para ABG. Alasannya, obat ini bisa menjadi pendamping saat mereka mengonsumsi narkoba.
’’Efeknya bisa lebih nendang kalau nenggak pil itu. Efek lainnya bisa lebih tenang dan gampang tidur,’’ beber R alias Penyok (17), salah satu remaja yang ditangkap petugas akhir pekan lalu.

Siswa SMK kelas XI itu mengaku sudah lama mengonsumsi hexyme untuk ketenangan diri. Dia mengetahui itu dari kawannya.


’’Awalnya hanya coba-coba nyobain sekali. Setelah diminum kok enak gitu bawaannya,’’ ujarnya yang mengaku selalu mengonsumsi hexyme setiap dirundung stres dan susah tidur.

Penyok tidak sendiri saat dibekuk BNP, Jumat (24/4) malam lalu. Dua kawannya juga ikut diringkus saat kedapatan membeli pil kuning itu sebanyak dua paket. Untuk sepuluh butir mereka merogoh kocek Rp20.000. Padahal, harga resminya bisa mencapai Rp80.000.

Tapi, di Apotek Hara, Jalan Tawes Raya, Perumnas 2 Kayuringin, Bekasi Selatan, versi Badan Narkotika Provinsi (BNP) obat tersebut dijual bebas. Pemilik apotek berinisial L mengaku tidak tahu efek negatif obat kuning tersebut yang setara narkoba.

“Penjual ngakunya tidak tahu kalau efeknya sama kayak Narkoba. Tapi, saya rasa tidak mungkin kalau sampai tidak tahu. Karena biasanya pemilik apotek paham dengan jenis obat-obatan,’’ ungkap Kepala BNNP DKI Jakarta, Brigjen Pol Ali Johardi, saat mendatangi apotek di Jalan Tawes Raya No 264 itu, kemarin.

Ali Johardi memimpin langsung penggeledahan apotek tersebut. Sejumlah obat-obatan keras yang diperjualbelikan secara bebas disita.

Obat jenis penenang hexyme, kata Ali, sebagai obat keras yang harus dibeli dengan resep dokter. Sayangnya, pemilik apotek menjual bebas obat yang dikenalnya dengan nama pil kuning ini. Karena itu, Ali menyebut sudah ada upaya melanggar hukum dari pemilik apotek.

Menurut Ali, efek yang diberikan saat minum obat ini pengaruhnya sama dengan narkoba. Hanya saja bila diminum sekaligus sebanyak 10 butir pengaruhnya akan lebih dahsyat seperti tingkat keberanian yang meningkat.

“Kalau diminum satu sampai tiga pil efeknya bagi si pemakai akan lebih tenang. Nge-fly istilahnya. Tapi kalau diminum sepuluh pil, efeknya bisa lebih lagi, mereka jadi lebih berani,” katanya.

Yang dikhawatirkan Ali, bila konsumsi obat penenang itu tidak dilakukan pencegahan akan berefek pada terjadinya tindak kriminal.

Dia mengaku, saat ini pil kuning itu tengah diuji di labolatorium untuk memastikan komposisinya. Bukan tidak mungkin jika berefek mirip narkoba akan dikategorikan sebagai narkoba jenis baru.

Sementara untuk tiga remaja yang tertangkap tangan saat membeli pil kuning akan diberikan pengarah terlebih dahulu dan diperiksa lebih lanjut. ’’Kita periksa lebih dalam lagi, jangan-jangan sudah ketergantungan, pengembangan sudah pasti kita lakukan,’’ ujarnya. (dat)