Setiap Minggu 100 Lubang

BIOPORI : Para siswa SMKN 3 Kota Bekasi saat membuat lubang biopori di lingkungan sekolahnya. DEDE/RADAR BEKASI
BIOPORI : Para siswa SMKN 3 Kota Bekasi saat membuat lubang biopori di lingkungan sekolahnya. DEDE/RADAR BEKASI
BIOPORI : Para siswa SMKN 3 Kota Bekasi saat membuat lubang biopori di lingkungan sekolahnya. DEDE/RADAR BEKASI

POJOKSATU.id, MUSTIKAJAYA –  SMKN 3 Kota Bekasi, menargetkan membuat 100 lubang biopori setiap minggu di sekitar lingkungan sekolah dengan jarak antar lubang sekitar 1 meter. Aksi tersebut, sebagai upaya mendukung program Pemkot Bekasi sejuta lubang biopori.

Seperti yang terlihat kemarin, para pelajar yang terdiri dari, OSIS, Pramuka, Caraka, Tulmen beserta Guru membuat lubang biopori di halaman sekolah.

Lubang dibuat dengan diameter 10 – 30 cm. Adapun kedalamannya sekitar 80 – 100 cm atau tidak melebihi kedalaman muka air tanah. Selanjutnya lubang diisi sampah organik untuk mendorong terbentuknya biopori.

“Biopori merupakan pori berbentuk liang atau terowongan kecil yang dibentuk oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman, ” kata Kepala Sekolah SMKN 3 Kota Bekasi, Sugiyono.


Menurutnya,  dengan asumsi setiap lubang dapat menampung 5 kg sampah organik dan 5 liter air hujan dalam 100 lubang, maka sama dengan mengolah 500 kg sampah organik menjadi kompos, serta meresapkan 500 liter air hujan ke dalam tanah.

“Praktik membuat lubang resapan biopori ini merupakan salah satu materi upaya pengurangan risiko bencana banjir. Hal ini sejalan dengan program SMKN 3 Kota Bekasi menuju sekolah siaga bencana. Dimana sesuai surat edaran Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 70a/MPN/SE/2010 perihal Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah,” imbuhnya

Lanjutnya, beberapa manfaat lubang resapan biopori antara lain untuk memelihara cadangan air tanah, mencegah terjadi keamblesan (subsidence) dan keretakan tanah, mengubah sampah organik menjadi kompos, meningkatkan kesuburan tanah, menjaga keanekaragaman hayati dalam tanah, serta mengurangi banjir.

“Banyak manfaatnya, selain di sekolah para siswa juga dapat menerapkannya di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing,” pungkasnya. (dat)