Direktur RSUD Salahkan Masyarakat

Sumarti
Sumarti
Sumarti

POJOKSATU.id, CIBITUNG – Direktur RSUD Kabupaten Bekasi, Sumarti seolah menyalahkan masyarakat yang tidak tahu prosedur pelayanan kesehatan. Ia juga menepis adanya upaya penelantaran salah seorang pasien tumor yang merupakan peserta BPJS Kesehatan bernama Dahlia Agustina (20), belum lama ini.

Bahkan, Sumarti menilai sosialisasi BPJS Kesehatan yang dilakukan Dinas Kesehatan perlu ditingkatkan. Agar tidak terjadi kesalah pahaman tentang pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Disinggung soal adanya jual beli alat kesehatan dengan nilai hingga Rp75 juta terhadap pasien BPJS Kesehatan, Sumarti menepisnya. Bahkan ia mengaku akan memecat oknum rumah sakit jika melakukan hal tersebut kepada pasien.
“Jika memang ada oknum tenaga kerja kontrak maka akan langsung kami pecat, dan jika dia PNS maka akan kami kembalikan ke BKD,” katanya.

Meski membantah telah menelantarkan pasien BPJS Kesehatan, namun Sumarti membenarkan kalau saat pasien bernama Dahlia membutuhkan pelayanan kesehatan, kamar perawatan dalam keadaan penuh pasien. Menurut dia, pasien level satu sebenarnya masih bisa dirawat di Puskesmas atau Poliklinik.


“Dan waktu itu memang kamar sebenarnya sedang penuh, kemudian jika memang benar ada yang meminta uang kasih tahu saya,” katanya.

Dia sendiri mengaku telah melakukan penelusuran untuk mencari tahu siapa oknum pegawai yang meminta uang dengan alasan tidak ada alat untuk melakukan operasi.
Sumarti menjelaskan, dalam penempatan ruang pasien, pihaknya memisahkan antara pasien lelaki dengan perempuan, pasien infeksius maupun beberapa pertimbangan lain. Dengan adanya aturan itu, maka terkadang adanya ruangan kosong kerap disalah artikan.

Lanjut Sumarti, pasien yang mendapatkan pelayanan di RSUD saat ini, sebanyak 80 persen dari pemegang kartu BPJS Kesehatan. Sementara tenaga SDM yang tersedia di rumah sakit ‘pelat merah’ tersebut 440 orang.

Sebelumnya, seorang pasien BPJS Kesehatan asal Cibarusah, Dahlia Agustina (20) mengaku ditelantarkan oleh pihak RSUD Kabupaten Bekasi dengan alasan kamar rawat inap penuh. Padahal Dahlia yang didiagnosa menderita penyakit tumor sudah dirujuk oleh tim dokter agar segera menjalani operasi.

Selain itu, keluarga tidak mampu itu pun diminta untuk membeli peralatan dan membayarkan sejumlah uang dengan nilai di luar batas kemampuan jika ingin mendapatkan pelayanan kesehatan.

Suami pasien, Ahmad Firdaus (24) mengaku sangat menyesalkan sikap rumah sakit kepada keluarganya yang tidak mampu. Dia mengaku tidak mampu membeli alat operasi yang diperkirakan mencapai Rp75 juta.

“Masa saya disuruh beli alat operasi juga, saya cuma orang susah,” kata Ahmad Firdaus, beberapa waktu lalu. (mas)