Begini Cara Pemkot Bandung Waspadai Peningkatan Kasus Aktif Covid-19

Ilustrasi virus corona.

Ilustrasi virus corona.


POJOKJABAR.com, BANDUNG– Peningkatan kasus Covid-19 aktif diwaspadai Pemerintah Kota (Pemkot)  Bandung di Provinsi Jawa Barat.

Menurut data Pusat Informasi Covid-19 Kota Bandung pada 13 Juni, jumlah kasus aktif tercatat sebanyak 1.188, bertambah 86 dari hari sebelumnya.

”Kita harus waspada tinggi, karena angka kumulatif aktif sedang bergerak. Kasus aktif bertambah sampai 86 kemarin (13/6),” kata Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna seperti dilansir dari Antara di Bandung, Senin (14/6).

Di Kota Bandung, angka kasus aktif, yang mencakup jumlah penderita infeksi virus korona yang masih menjalani perawatan dan isolasi mandiri, cenderung meningkat sejak akhir Mei.

Kasus aktif yang semula ratusan mencapai angka seribuan.

Sementara itu, jumlah akumulatif warga yang terserang Covid-19 di Kota Bandung tercatat 20.863 orang dengan jumlah penderita yang sudah sembuh sebanyak 19.309 orang dan penderita yang meninggal dunia 366 orang.

Peningkatan kasus Covid-19 berdampak pada ketersediaan tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR) di ruang isolasi rumah sakit.

”BOR kita sudah mendekati angka 89 persen, tepatnya sekarang itu 88,8 persen, mendekati 90 persen, ini kan harus waspada tinggi. Jadi setiap rumah sakit ini okupansinya mengalami peningkatan,” kata Ema.

Sementara itu, jenazah yang dimakamkan dengan protokol kesehatan Covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) khusus Covid-19 Cikadut, Kota Bandung, Jawa Barat, sejak awal Juni mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya.

Pengelola TPU Cikadut Ajat mengatakan, kenaikan itu mulai terjadi pada 9 Juni.

Sebelum itu, jumlah jenazah yang dimakamkan dengan protokol Covid-19 sekitar tiga sampai empat jenazah.

Namun, kini setiap hari mencapai 10 hingga 20 jenazah per hari.

”Sekarang dari jam 06.00 WIB sampai jam 13.00 WIB juga sudah ada sembilan jenazah yang dimakamkan,” kata Ajat di Kantor UPT TPU Cikadut, Senin (14/6).

Kenaikan itu, menurut dia, berdampak terhadap para petugas pemikul dan penggali dalam melakukan proses penguburan.

Pasalnya, mereka bekerja selama 24 jam penuh.

”Sampai malam juga di sini ‘kan kewalahan bikin liang lahat, kalau malam juga ada kan yang menggali,” ujarnya.

“Jadi, di sini cuma penangguhan saja, misalnya datang jam 08.00 WIB, diundur sebentar saja untuk menyediakan liang lahat,” terang Ajat.

Menurut Ajat, para petugas penggali dalam satu hari selalu menyiapkan 20 liang lahat di TPU khusus Covid-19 tersebut.

Para petugas dari TPU lain ada yang dikirimkan untuk membantu proses pemakaman di TPU Cikadut.

”Pekerjanya sekarang ada sekitar 30 orang, dan itu juga dibagi shifnya, jadi satu liang lahat dikerjakan dua orang,” tutur Ajat.

Ajat mengatakan, jenazah yang dimakamkan di TPU Cikadut bukan hanya warga asli Kota Bandung.

Sebab, TPU Cikadut juga menjadi pemakaman rujukan dari sejumlah rumah sakit di Kota Bandung yang juga menjadi rujukan Covid-19 bagi pasien di Bandung Raya.

Sementara itu, Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Bandung meminta kepada rumah sakit agar lebih cepat.

Juga cermat dalam mengidentifikasi status jenazah yang negatif Covid-19 guna mencegah pemindahan jenazah.

Kepala Distaru Kota Bandung Bambang Suhari mengatakan, jika jenazah terindikasi dan mengarah pada terkonfirmasi positif, RS juga harus berkoordinasi sejak dini melalui UPT TPU Cikadut.

”Kenapa RS kurang teliti mendatangkan jenazah ke Cikadut? Padahal dia jelas bukan Covid-19,” jelasnya.

“Mungkin hasil swab baru empat hari kemudian. Pada akhirnya yang diabetes, jantung, dan atau penyebab lain dimakamkan dengan protokol Covid-19 di Cikadut,” kata Bambang. (jpc/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds