Kisah Eddi Brokoli Gemar Touring dengan Motor, Lebih Betah di Bandung

Eddi Brokoli./Foto: Istimewa

Eddi Brokoli./Foto: Istimewa


POJOKJABAR.com– Eddy Hidayatullah alias Eddi Brokoli kini masih sibuk di dunia entertainment. Namun, di balik itu, Eddi rupanya juga punya hobi yang ”laki banget” dan sudah mendarah daging. Yakni, touring menggunakan motor.

Hal itu sudah melekat pada artis senior dan multitalenta ini identik dengan rambut kribonya.

Bagaimana keseruannya? Simak wawancara eksklusifnya dengan Jawa Pos.

Hai Kang, apa kabar? Masih sibuk di dunia entertainment?

Alhamdulillah, baik. MC off-air masih jalan terus, tapi sejak pandemi, bisa dibilang hilang sampai 70 persen. Sisanya yang 30 persen itu dijalani dengan protokol kesehatan yang ketat.

Kalau di dunia sinetron?

Gue udah nggak pernah main sinetron lagi ya sejak pindah ke Bandung. Karena kebanyakan tawarannya striping. Terakhir, pernah syuting sinetron karena memang lokasinya di Bandung. Gue udah nggak mau tinggal di Jakarta belama-lama soalnya.

Kira-kira bakal ada project terbaru apa ke depannya?

Paling syuting web series untuk sebuah produk dan untuk wisata Lombok di bulan Maret. Sekarang sih, lagi sibuk di DCDC Musik Kita di GTV.

Banyak orang yang kini gampang terkenal dari medsos, menurut Akang gimana?

Itu fenomena yang nggak bisa dilawan ya. Memang udah zamannya begitu. Gue bisa dibilang generasi awal dan ikut merasakan perubahannya begitu cepat. Dulu di album pertama gue, rekaman masih pakai analog, album kedua udah digital. Ketika semua serbadigital, wah begitu cepat (prosesnya, Red). Gue aja mau bikin TikTok. Bukan karena ikut-ikutan, melainkan gue mau beradaptasi walaupun udah senior.

Di YouTube juga aktif?

Konten YouTube gue belum banyak, talk show dan jalan-jalan aja. Kalau vlog, gue nggak terlalu suka. Apalagi kalau lagi di jalan, paling pas sampai di tujuan. Itu pun yang rekam orang lain karena dari dulu biasa ngomong depan kamera. Jadi males aja pegang kamera, hahaha.

Hobi touring motoran sejak kapan?

Dari SMA kelas X. Dulu, sekitar 1993, sebulan sekali pasti motoran ke Situ Patengan. Jaraknya dari rumah saya di Bandung tuh sekitar 40 kilometer. Bayangin dulu treknya nggak sebagus sekarang pastinya, motor juga belum pakai cc yang gede. Kalau flashback, saya tuh memang sering motoran ke Ciwidey, Garut, pokoknya ada aja deh.

Apa sih yang bikin nagih?

Indonesia tuh alamnya luar biasa bagus dan setiap daerah punya keindahan yang berbeda. Ketika kita punya banyak kesempatan keliling Indonesia, gue sih bersyukur banget. Apa yang gue lihat dari atas sepeda motor dan mobil tuh feel-nya beda banget. Ini quote gue kutip dari media sosial, lebih baik datang ke suatu tempat walaupun cuma sekali daripada mendengar ribuan kali dari cerita orang.

Motoran jadi healing tersendiri buat Akang?

Healing, bekerja, silaturahmi, main, cuci mata, nambah relasi, ketemu banyak orang yang karakternya berbeda-beda, dan banyak deh yang bisa diambil (manfaatnya, Red).

Lebih nyaman motoran sendiri atau berkelompok?

Masing-masing punya kenikmatannya sendiri. Riding sendirian tuh yang didapat bebas mau lewat jalur mana, berhenti bisa kapan dan di mana aja. Lebih ke healing sih karena nggak ada teman untuk ngobrol kan. Jadi fokus nikmatin perjalanan dan pemandangan yang bagus ataupun nggak. Sedangkan kalau berkelompok, enaknya oleh-oleh dokumentasi perjalanan pasti jauh lebih bagus.

Ke mana aja kalau sendiri?

Sebetulnya udah cukup lama gue nggak riding sendirian. Belakangan izin sama istri agak susah, jadi minimal berdua, atau nggak sama kelompok kecil. Tapi, kalau sendirian, paling cuma ke Jakarta, Pangandaran, Kuningan, dan daerah Jawa Barat lainnya.

Paling jauh touring ke mana?

Timor Leste, tapi start-nya dari Labuan Bajo, finish di Atambua. Kalau secara jarak tempuh, Bandung–Lampung sekitar 1.700 kilometer waktu tahun 2018. Dalam waktu dekat, insya Allah awal Maret rencana mau ke Bali.

Suka touring ngajak anak?

Kalau sama si bungsu, karena masih umur 8 tahun, paling ke sekitar Bandung. Tapi, kalau sama yang besar, udah ke Sumedang pulang pergi cuma buat ngopi doang.

Jadi nurun ke anak juga ,ya?

Iya. Waktu ke Lampung itu, paling jauh touring sama anak karena dia udah punya SIM juga. Kemarin juga motor anak saya baru di-custom sebagai kado ulang tahun.

Di rumah koleksi motor juga?

Ada, tapi nggak banyak, tujuh motor. Dua motor klasik, vespa tahun 1964 sama BSA tahun 1954. Vespa tuh motor yang gampang merawatnya. Kalau BSA, paling susah karena motor tua, buatan Inggris, banyak spare part yang nggak ada.

(jpc/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds