Tetap Waspada, 11 Kecamatan di Kabupaten Bandung Barat Rawan Longsor dan Banjir Bandang

Bencana longsor di Kampung lebak Cihideung, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kab. Bandung Barat yang memakan korban pada Kamis (24/12/2020).

Bencana longsor di Kampung lebak Cihideung, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kab. Bandung Barat yang memakan korban pada Kamis (24/12/2020).


POJOKJABAR.com, NGAMPRAH – Sebanyak 345 kejadian bencana telah terjadi di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) dengan total jiwa terdampak sebanyak 2.504 jiwa selama periode Januari-Desember tahu 2020 lalu.

Untuk itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), KBB, meminta masyarakat tetap waspada terhadap ancaman longsor yang bakal terjadi di 2021. Kepala Pelaksana BPBD KBB, Duddy Prabowo mengungkapkan, kejadian bencana tanah longsor menjadi yang paling banyak terjadi di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) selama tahun 2020.

Berdasarkan data yang telah dicatat oleh BPBD KBB, telah terjadi longsor sebanyak 143 kejadian. Jumlah jiwa terdampak 774 dengan korban meninggal satu orang.

“Bencana longsor tahun lalu mendominasi. Tahun ini pun kemungkinan sama, apalagi ada 11 kecamatan di KBB yang rawan longsor dan banjir bandang,” Duddy Prabowo kepada, Rabu (6/1/2021).

Duddy menyebutkan, kecamatan rawan bencana di KBB di antaranya Kecamatan Rongga, Gununghalu, Cipongkor, Sindangkerta, Cililin. Lalu Kecamatan Cipatat, Saguling, Cisarua, Parongpong, Lembang, dan Ngamprah yang semuanya rawan longsor dan banjir bandang ketika musim penghujan datang.

Salah satu faktor yang meningkatkan risiko tanah longsor di 11 kecamatan tersebut, karena tingkat kemiringan lahannya rata-rata mencapai 25 hingga 30 derajat. Kondisi tanah yang labil dan tidak memiliki akar rambatan sehingga sangat rapuh ketika digerus air. Hal tersebut diperparah dengan maraknya pembangunan permukiman sehingga daerah tangkapan air jadi berkurang.

“Seperti kejadian longsor di Desa Jayagiri, Lembang, yang mengakibatkan seorang warga meninggal akhir tahun kemarin, dikarenakan daerahnya tebing dan banyak rumah warga dibangun,” ucapnya.

Sebagai antisipasi dini potensi bencana di wilayah, pihaknya telah bekerjasama dengan BMKG untuk memasang alat deteksi pergerakan tanah di beberapa lokasi di antaranya Cililin, Cikalongwetan, Cisarua, Ngamprah, dan Saguling. Termasuk menyiapkan 50 personel lapangan yang akan bergerak jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam.

“Petugas piket selalu kami siapkan, apalagi saat ini hujan masih turun dengan intensitas tinggi,” pungkasnya.

(RBD/bie/pojokjabar)

Daftar untuk Tonton Launching Motor Honda New PCX Klik Disini
Loading...

loading...

Feeds