Tangisan Anak Terdakwa Pecah di Sidang ITE Anggota DPRD Jabar

Anak terdakwa kasus ITE yang melibatkan anggota DPRD Jabar ikut hadiri sidang ibunya (arf)

Anak terdakwa kasus ITE yang melibatkan anggota DPRD Jabar ikut hadiri sidang ibunya (arf)


POJOKJABAR.com, BANDUNG — Sidang UU ITE yang melibatkan anggota DPRD Jabar digelar di PN Bandung, Jumat (16/10). Salah satu anak terdakwa kasus UU ITE, Andrea hanya bisa menangis.

Andrea yang hari ini ultah ke 20, tak bisa bertemu sang ibu lantaran ditahan di Rutan Perempuan Bandung, setelah dilaporkan karena kasus UU ITE.

Sidang pun digelar dengan saksi korban Anggota DPRD Jabar Tina Wiryawati.

Agung Dewi Wulansari, ibu Andrea didakwa Pidana Pasal 45 ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 3 Undang-undang No 19 Taun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik di dakwaan primer. Lalu Pasal 45 ayat 3 juncto Pasal 27 ayat ‎3 UU ITE pada dakwaan subsidair.‎

Saat persidangan dimulai, di Pengadilan Negeri (PN) Klas1A Bandung, anak terdakwa dan kerabatnya tampak hadir.

Namun Andrea tetap tak bisa bertemu ibunya lantaran sidang berlangsung secara teleconfrence, dan terdakwa Agung Dewi tetap di Rutan Perempuan Bandung.

Dia dan kerabatnya tampak membawa poster berisi tulisan agar ibunya dibebaskan. ‘Bebaskan Mama Dewi, Mama cuma membela Aku yang ingin ketemu papa, ‘isi tulisan yang dibawa Andrea.

Sementara sidang menghadirkam Tina Wiryawati anggota DPRD Jabar dari Fraksi Gerindra.

Dia menjelaskan bahwa postingan yang dituliskan terdakwa di media sosial menjadi pembicaraan orang lain dan banyak yang menanyakan kebenarannya.

“Berdasarkan postingan itu, banyak teman-teman saya yang baca. Menanyakan kebenarannya karena postingan komentarnya diliat banyak akun,” terang Tina, Jumat (16/10).

Dalam dakwaan jaksa, pada 23 Desember 2018, ada komentar dikirim oleh username terdakwa di postingan Facebook isinya : ‘save GA agar bisa bertemu ayah kandungnya yaitu suami dr Tina Wiryawati.

Tina adalah istri ke-5 dari kapten pilot senior GI’. Kemudian terdakwa kembali berkomentar ; ‘yakin anda akan mendukung wanita seperti ini yang sudah zalim dengan seorang anak yang ingin ketemu bapaknya.

Baca dulu dengan bijak jangan tertipu hanya dengan kerudung. Ibu tiri kejam tidak pantas jadi wakil rakyat yntuk partai besar yang terhormat’.

‎Hakim sempat menanyakan ihwal dampak dari postingan dari terdakwa terhadap Tina. Lalu, menanyakan kebenaran dari postingan terdakwa.

“Saya malu dan merasa terhina. Dan saya tidak merasa melakukan seperti hal yang ditulis oleh terdakwa,” katanya.

Sementara itu, jaksa penuntut umum Afif menanyakan soal dampak postingan tersebut terhadap pengaruh perolehan suara dari Tina. ‎Di sisi lain, Tina mengaku sudah memaafkan perbuatan terdakwa. ‎

“Tidak berpengaruh ke pileg karena saya merasa itu menyangkut pribadi saya yang tidak pernah saya lakukan. Tapi saya sudah memaafkan terdakwa,”terangnya.

‎Rini Prihandayani, kuasa hukum Agung Dewi Wulansari mengatakan pada sidang kali ini, anak terdakwa, bernama Andrea, hadir di persidangan.

Namun, tidak bisa bertemu ibunya karena sidang dilaksanakan secara virtual.

“Tadi Andrea sengaja hadir karena hari ini bertepatan dengan hari ulang tahunnya ke-20. Sedih lah karena di hari ulang tahunnya tidak bisa ketemu ibunya, berharap ketemu di ruang sidang tapi tidak bisa,” ucap Rini.

Sidang dilanjutkan pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi. Ia berharap, dalam memutus nanti, majelis hakim mempertimbangkan aspek psikologis keluarga.

“Karena ini kan motifnya ada permasalahan keluarga. Jadi harapannya ketika memutus nanti, ada aspek-aspek hubungan kekeluargaan yang harus diperhatikan,” ucapnya. ‎

Hukum pidana di Indonesia punya asas ultimum remedium. Bahwa penerapan pidana merupakan cara terakhir untuk penegakkan keadilan.‎

“‎Selama ini tersangka hanya ibu rumah tangga biasa yang menghidupi ke tiga anaknya dengan berusaha mandiri,” katanya.

“Menerima catering makan siang di sekolah anaknya yang masih duduk di kelas IV SD. Bisa dibayangkan anak-anak itu yang biasanya hidup bersama ibu mereka harus terenggut. Dipisahkan dengan masalah yang seharusnya tidak sampai menyeret ibu mereka ke dalam tahanan,” terangnya.

(arf/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds