Pemkot Cimahi Terus Dukung Petani dengan Jamu Organik

Walikota Cimahi Ajay Muhyammad Periatna saat melakukan giat panen raya uji coba Jamu Organik Bio Gro di Ciseupan, Cibeber, Kota Cimahi, Rabu (26/8/2020). Ist

Walikota Cimahi Ajay Muhyammad Periatna saat melakukan giat panen raya uji coba Jamu Organik Bio Gro di Ciseupan, Cibeber, Kota Cimahi, Rabu (26/8/2020). Ist


POJOKJABAR.com, CIMAHI – Pemerintah Kota Cimahi terus mengembangkan obat organik penyubur tanah dan tanaman yang diberi ‘Jamu Organik Bio Gro’. Walikota Cimahi Ajay Muhammad Priatna mengklaim, obat organik tersebut bisa meningkatkan produksi dan menghasilkan panen yang berkualitas.

“Kelompok tani akan kami ajak memakai obat ini. Kami akan turun tangan, edukasi ke kelompok tani. Akan kami gratiskan,” kata Ajay saat ditemui usai Giat Panen Raya Uji Coba Jamu Organik Bio Gro di Ciseupan, Cibeber, Kota Cimahi, Rabu (26/8/2020).

Obat organik tersebut pun sudah pernah digunakan untuk tanaman padi di area sawah di Jalan Aruman, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara dan kali ini akan disosialisasikan dan dipakai di area tanam padi di Kampung Ciseupan, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan.

Dikatakan Ajay, obat tersebut diyakini akan bermanfaat bagi para petani untuk meningkatkan produksinya. Apalagi, kata dia, lahan pertanian di Kota Cimahi terus menyusut dan kini hanya tersisa 137 137,14 hektare, yang hanya mampu memproduksi beras 1.674,13 ton per tahun.

Jumlah hasil panen tersebut jelas tidak akan mencukupi untuk kebutuhan pangan masyarakat Kota Cimahi yang mencapai sekitar 548.755 jiwa. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pangan, Cimahi dipastikan akan selalu bergantung kepada daerah lain.

“Itu hanya cukup untuk 2,85 persen saja dari kebutuhan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan, perlu dipenuhi dari daerah lain,” sebut Ajay.

Panen padi itu diperoleh dari 137,14 lahan sawah tersisa di Kota Cimahi atau 3,43 persen dari total luas wilayah Cimahi yang hanya 40 kilometer persegi lebih. Lahan sawah itu tersebar di Kecamatan Cimahi Utara 85,42 hektare, di kecamatan Cimahi Selatan 46,3 hektare dan Kecamatan Tengah 4,42 hektare.

Ajay mengklaim, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk pemenuhan ketersediaan pangan di Kota Cimahi. Seperti menyediakan lahan abadi sesuai yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Luas Lahan Pertanian Berkelanjutan (LP2B).

“Lahan sawah seluas 33,09 hektare masuk dalam Perda RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) yang tidak boleh dialihfungsikan. Kecuali untuk kepentingan tertentu sesuai yang diisyaratkan dalam ketentuan,” jelas Ajay.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi, Supendi Heriyadi menambahkan, tahun ini produksi padi di Kota Cimahi ditargetkan naik menjadi 1.679,16 ton. Salah satu upayanya adalah dengan penggunaan obat organik Biogro.

“Dulu kan pernah diimplementasikan di Cibabat. Awalnya dari satu hektare itu hanya 6,5 ton, pakai obat ini naik jadi 9,2 ton per hektare,” terang Supendi.

(bie/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds