Mantan Bupati Indramayu Dieksekusi ke Lapas Sukamiskin

Bupati Indramayu, Supendi saat menjabat. Yanto/pojokjabar

Bupati Indramayu, Supendi saat menjabat. Yanto/pojokjabar


POJOKJABAR.com, BANDUNG– Pasca putusan pidana korupsi oleh pengadilan Tipikor Bandung, Mantan Bupati Indramayu Supendi sudah dieksekusi ke Lapas Sukamiskin.

Hal itu dilakukan usai pada pekan lalu usai divonis bersalah menerima suap senilai total Rp 3.9 miliar dan dihukum pidana penjara 4 tahun 6 bulan.

Kepala Lapas Sukamiskin, Thurman Hutapea mengatakan, sejak dieksekusi, Supendi langsung menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. Pekan ini, Supendi menjalani isolasi mandiri pekan kedua.

 

“Kalau baru masuk, ikuti masa pengenalan lingkungan dulu sekalian isolasi mandiri selama 14 hari,” ujar Thurman di Kantor Kanwil Kemenkum HAM Jabar, Rabu (5/8)

Menurutnya, di masa pandemi Covid 19, Lapas Sukamiskin memberlakukan kebijakan ketat ihwal tahanan yang masuk.

“Seperti pak Supendi. Tahanan yang dieksekusi ada tes dulu. Dari KPK, harus melampirkan hasil sw‎ab. Kita kan enggak tahu gimana di luar. Setelah itu jalani isolasi mandiri selama 14 hari,” jelasnya.

 

Dua pekan lalu, warga binaan Lapas Sukamiskin, Dada Rosada mantan Walikota Bandung,terpidana korupsi suap hakim dan Edi Siswadi mantan Sekda Pemkot Bandung jadi saksi di persidangan kasus korupsi ruang terbuka hijau (RTH).

“Iya, sebelum ke pengadilan dan saat kembali lagi ke Lapas Sukamiskin di rapid tes. Karena kami khawatir,saat keluar lapas, di luar kan enggak tahu tuh gimana, jadi untuk memastikan di rapid tes,”terangnya.

Sementara itu, meski saat ini berlaku adaptasi kebiasaan baru (AKB), namun itu tidak berlaku di dalam lapas.

“Lapas Sukamiskin dan lapas lainnya belum diperbolehkan menerima kunjungan. Sampai saat ini masih stop kunjungan karena belum ada perintah pimpinan,” paparnya.

Kalapas menambahkan, jika warga binaan di Lapas Sukamiskin pun setuju jika kunjungan ditiadakan hingga pandemi berakhir.

“Setelah saya koordinasi dengan warga binaan lain, pada umumnya mereka meminta tidak menerima kunjungan, Karena berbahaya. Karena keluarga dari seluruh wilayah Indonesia, ada yang zona merah juga takut. Satu saja terkontaminasi, itu bisa berbahaya. Disiasatinya pakai video call,” pungkasnya.

(arf/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds