Pembuat Tembakau Gorila Diamankan Saat Penjualnya Ditangkap Polisi

Polres Cimahi amankan narkoba jenis tembakau Gorila./Foto: Istimewa

Polres Cimahi amankan narkoba jenis tembakau Gorila./Foto: Istimewa


POJOKJABAR.com, BANDUNG– Tim Satres Narkoba Polres Cimahi, berhasil mengungkap kasus peredaran narkoba jenis tembakau Gorila.

Pengungkapan berawal dari penangkapan terhadap tersangka DS, yang diamankan polisi karena menjual tembakau Gorila.

Kapolres Cimahi AKBP M Yoris, menjelaskan bahwa kasus ini berhasil diungkap berdasarkan adanya informasi masyarakat.

“Awalnya kami menangkap DS dengan cara undercover. Dari DS kami kembangkan ke tersangka lain yakni PS. PS berperan sebagai pembuat atau pengemas tembakau yang mengandung narkotika itu dengan berbagai merek. Di antaranya, Banan Candy, Nataradja Dance Shiva, dan Bali Indonesia. Kemudian pelaku memasarkannya melalui media sosial Instagram dengan akun ZETAS.STUFF,” jelasnya, Selasa (2/6).

 

Hasil dari penyelidikan itu, ujar Yoris, polisi mendapatkan jaringan penjualan tembakau Gorilla yang dipasarkan melalui media sosial Instagram.

Anggota melakukan undercover sebagai pembeli melalui online. Kemudian, saat mengambil pesanan, polisi menangkap satu orang penjual berinisial DS warga Kota Cimahi pada 31 Mei 2020.

“Saat diamankan, pelaku kedapatan membawa lima linting tembakau sintetis,” ujar Yoris.

DS, tutur Kapolres Cimahi, mengaku bekerja sama dengan tersangka PS. Polisi pun mengejar PS dan berhasil menangkapnya di sebuah rumah kontrakan di kawasan Cibaduyut, Bojong Loa Kidul, Kota Bandung.

“Di sinilah pelaku PS menjadikan rumah kontrakkannya sebagai pabrik rumahan untuk membuat tembakau sintetis. Kedua tersangka memiliki peran berbeda. Tersangka PS berperan sebagai peracik dan tersangka DS memasarkan tembakau Gorilla tersebut,” tutur AKBP Yoris.

Sepanjang sehari, ungkap Yoris, tersangka PS mampu memproduksi beberapa gram untuk dijadikan lintingan tembakau sintetis untuk dijual kembali. Tersangka PS dan tersangka Ds dalam sekali produksi mendapatkan keuntungan kotor sejumlah Rp175.000.000 per minggu.

Setiap 1 gram bibit tembakau sintetis dapat menghasilkan 50 gram tembakau sintetis dengan harga jual seharga Rp350.000 sampai Rp400.000 per 5 gram.

“Tersangka belajar meracik dan mendapat bahan baku pembuatan tembakau sintetis itu dari seseorang yang saat ini tengah dalam pengejaran petugas,” ungkap Kapolres Cimahi.

Dari pengungkapan ini, petugas Satres Narkoba Polres Cimahi mengamankan barang bukti, di antaranya beberapa linting tembakau sintetis, bahan pokok tembakau sintetis, dan peralatannya.

“Mereka sudah beroperasi selama beberapa bulan. Pemasaran hasil produksi tembakau sintetis kedua tersangka selain di Kota Cimahi, juga Kota dan Kabupaten Bandung. Tembakau gorilla buatan PS juga beredar di beberapa Kota dan Kabupaten di wilayah pulau Jawa,” kata Yoris.

Akibat perbuatannya, tersangka PS dan DS dijerat Pasal 114 ayat (1) dan ?atau pasal 132 ayat (1) Subsider Pasal 113 ayat (1) dan atau Pasal 112 ayat (1) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2020 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.

“Kedua tersangka terancam hukuman pidana di atas 10 tahun penjara,” pungkasnya.

(arf/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds