Pekerja Proyek Kereta Cepat Asal China Diduga Bawa Virus Corona, Ini yang Harus Dilakukan

Korban Virus Corona. Ist

Korban Virus Corona. Ist


POJOKJABAR.com , BANDUNG — Pegawai proyek kereta cepat Jakarta-Bandung asal China diduga kena virus corona. Lokasi pekerjaan mereka di Bandung Barat hingga Kabupaten Bandung.

Menyikapi hal tersebut, Komisi V DPRD Jabar meminta pihak KCIC harus segera memberikan penanganan jika ada pekerja asal China terkena virus corona.

“Ada pegawai proyek asal China dan baru pulang darisana, lalu terkena virus corona harus segera dikirim ke RS pusat, dalam hal ini RSHS Bandung atau ke Jakarta,” terang Ketua Komisi V DPRD Jabar, Abdul Hadi Wijaya, Senin (27/1).

Baca Juga :

 

Virus Corona Sudah Ada Sejak 2015 di Indonesia, Hasil Riset IPB

 

Abdul menambahkan, jika ada kasus demikian di daerah, maka rumah sakit daerah disarankan berkordinasi dengan RSHS.

“Ini akan kami bahas dengam dinkes, untuk mencegah penyebaran di Jabar,” paparnya.

Diakuinya, untuk saat ini rujukan utama bagi pasien dugaan virus corona akan kami arahkan ke RSHS.

“Sejauh ini yang lengkap fasilitasnya disana, kami mencegah agar warga Jabar terhindar dari virus ini. Karena ini menyangkut nyawa manusia, ” jelasnya.

Sementara Komisi V DPRD Jabar meminta semua pihak melakukan kordinasi lintas sektoral, dalam menyikapi adanya wabah virus corona.

Ketua Komisi V DPRD Jabar, Abdul Hadi Wijaya mengatakan bahwa komisi V sudah melakukan komunikasi dengan Rumah sakit pusat dalam hal ini RSHS Bandung.

“Menyikapi corona ini, jadi harus kerjasama antar instansi lintas sektoral,” jelasnya saat dihubungi, Senin (27/1).

Dirinya menjelaskan, misalnya sekarang ada penanganan di RSHS, itu harus diketahui oleh semua pihak.

“Di RSHS sudah ada kamar isolasi khusus. Nah ini harus diketahui juga oleh rumah sakit di daerah seluruh Jabar,” jelasnya.

“Termasuk bandara dan pelabuhan di Jabar agar jika ada pasien yang diduga terkena corona segera dibawa ke rshs langsung, bukan ke rs terdekat,” paparnya.

RSHS juga ditambahkan Abdul Hadi, harus melakukan komunikasi lamgsung dengan potensi yang memungkinkan adanya pasien diduga terkena corona.

“Misalnya dengan bandara, harus ada komunikasi langsung,” terangnya.

 

(arf/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds