Ridwan Kamil Beri 3 Opsi, Balai Wyata Guna: Hanya Belasan Mahasiswa di Asrama

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil./Foto: Ega

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil./Foto: Ega


POJOKJABAR.com, BANDUNG– Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyata Guna Bandung mengaku hanya menemukan 12 orang mahasiswa yang kini tinggal di asrama.

Pengakuan itu disebut sejak kembalinya 32 mahasiswa tuna netra ke asrama pada Sabtu 18 Januari 2020 kemarin.

Kepala Balai Wyata Guna Sudarsono mengatakan, pada saat penandatanganan nota kesepakatan, pihaknya hanya menerima 17 orang yang menulis di daftar.

Bahkan, hingga Rabu 22 Januari, ketika pihak balai melakukan pengecekan, hanya terdapat 12 orang mahasiswa yang tinggal di asrama.

”Jadi, saya melihatnya tidak sebesar yang digembor-gemborkan,” tutur Sudarsono saat ditemui di Balai Wyata Guna, Rabu (22/1).

Menurutnya, sudah ada beberapa mahasiswa yang dijemput oleh keluarganya. Sehingga, jumlah mahasiswa yang saat ini tinggal di asrama kurang dari 32 orang.

“Silakan 32, mana catatan orang-orangnya? Karena kan kami juga bisa verifikasi yang 32, kami punya datanya kan. Coba saya bilang, 17 yang disampaikan ke kami. Ini 17 coba bener enggak? Yang perempuan kan 8, ternyata 7 hari pertama masuk, hari berikutnya hanya 4 di asrama perempuan. Berarti yang butuh itu kan yang memang stay terus menerus,” jelasnya.

“Bukan pada saat ada moment tertentu datang semua banyak, semua kan juga bisa WhatsApp-an kalo yang begitu. Tapi realnya kan kita bisa liat. Jadi ini yang kita coba pahamkan ke banyak pihak. Kami Kemensos merespon, ya, persoalan ini. Tapi janganlah dieksploitasi oleh kepentingan lain, itu yang saya sangat sedih, ya,” tuturnya.

Lebih lanjut Sudarsono mengatakan, peralihan Wyata Guna menjadi Balai guna memberikan kesempatan bagi disabilitas netra yang lebih membutuhkan. Sebab, Balai memiliki tanggung jawab untuk 10 Provinsi. Sehingga harus ada pergantian penerima manfaat.

“Posisi balai kita bisa melayani lebih luas, liahtnya dari situ jangan dilihat sekian orang tidur di jalan,” tuturnya.

Sementara, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan, ada tiga opsi penyelesaian masalah 32 mahasiswa penyandang disabilitas yang dikeluarkan dari Balai Wyata Guna Bandung.

Opsi pertama, menurutnya adalah pindah ke Cibabat dengan difasilitasi transportasi dan lain-lain. Kedua, kembali ke status penerima manfaat dengan mengubah peraturan Kementerian Sosial (Kemensos) tentang status panti menjadi balai. Ketiga, tanah Pemprov Jabar yang sempat dihibahkan 1.5 hektar itu bisa dibangun panti.

“Mudah-mudahan pulang dari sini 3 solusi itu mendapatkan keadilan yang diterima oleh semua pihak,” ucap Emil, sapaan akrabnya, saat menerima perwakilan Kantor Staf Presiden di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (22/1).

Emil mengatakan, pihaknya hanya bisa menunggu keputusan dari Kemensos terkait kebijakan dalam menangani masalah di Balai Wyata Guna Bandung.

“Kami ini pihak ke 3, yang berperkaranya Kemensos dan penghuni panti. Jadi langkah kami tidak bisa secepat yang kami harapkan,” imbuhnya.

Kendati demikian, Emil optimis masih banyak jalan yang bisa ditempuh untuk membantu permasalah tersebut, salah satunya lewat Disdik, Kemensos, Hibabansos dan Komunitas.

“Saya tidak khawatir urusan perbantuan, sekarang pastikan dulu statusnya kalau statusnya udah jelas maka strategi membantunya lebih jelas,” tandasnya.

(rmol/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds