Hentikan Diskriminasi Terhadap ODHA

Ilustrasi HIV/AIDS

Ilustrasi HIV/AIDS

POJOKJABAR.com, CIMAHI – Sepanjang tahun 2005 hingga 2019, 40 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) warga Cimahi meninggal dunia. Sementara jumlah kasus HIV/AIDS mencapai 443.

Berbagai upaya pun tengah dilakukan Pemkot Cimahi dalam penanggulangan masalah, serta meminimalisir penyebaran HIV/AIDS di wilayahnya.

Saat ini, selain gencar mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS, Pemkot Cimahi terus mengawasi komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Wakil Walikota Cimahi, Ngatiyana, mengatakan, kasus HIV/AIDS biasanya timbul akibat dari jarum suntik, misalnya pemakaian narkoba dan sebagainya. Serta hubungan seksual dengan berganti-ganti
pasangan.

“Selain itu juga berpotensi terpapar HIV AIDS, karena itu tadi identik dengan jarum suntik. Kalau hubungan, istilahnya bergaul, pembicaraan, mungkin sentuhan dan lain sebagainya, di kamar mandi, di terminal, itu tidak menularkan HIV/AIDS, kecuali jarum suntik dan hubungan seksual berganti-ganti pasangan,” kata Ngatiyana, usai membuka Rapat Koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kota Cimahi di Aula Gedung A Pemkot Cimahi Jalan Demang Hardjakusumah, Senin (30/9).

Menurutnya, pencegahan dan pemberantasan HIV/AIDS ditanah air bukan hanya tanggungjawab pemerintah, tetapi merupakan tugas kita semua seluruh komponen masyarakat Indonesia.

“Pandangan masyarakat terhadap HIV/AIDS saat ini masih merupakan momok yang mematikan dan menakutkan. Sehingga diskriminasi terhadap odha (penderita HIV/AIDS) masih terjadi dimana-mana, padaha HIV/AIDS sudah bisa dikelola, dan sudah ada obatnya,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, adanya stigma dan diskriminasi serta bayangan masa depan yang gelap, seringkali membuat seseorang yang berisiko tertular HIV, seperti pengguna narkotika suntik, pelaku hubungan seksual yang tidak aman dan bergonta ganti pasangan, jadi takut melakukan test HIV.

“Pengidap HIV/AIDS tidak boleh dikucilkan, dimarginalkan. Harus kita dekati, sehingga mereka hidupnya semangat, dan punya harapan,” imbuhnya.

Ngatiyana mengakui, pengetahuan masyarakat mengenai cara penularan, pencegahan, dan pengobatan HIV/AIDS dirasakan masih sangat kurang. Masyarakat memandang HIV/AIDS merupakan sesuatu yang sangat menakutkan, mematikan, dan tidak ada obatnya, sehingga pengucilan atau stigma terhadap odha masih terjadi.

“Untuk ODHA kita ada pembinaan dan pengobatan yang diberikan secara rutin. Makanya hari ini kami undang narasumber dari provinsi, sehingga peserta Rakor yang diantaranya kader PKK, dan kelurahan bisa di sosialisakan lagi kepada masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS dan cara pencegahannya,” terang Ngatiyana.

(RBD/gat/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds