Pakar ITB Beberkan Penyebab Banyaknya Kecelakaan di Tol Cipularang

Kecelakaan atau tabrakan beruntun di Tol Cipularang atau Tol Purbaleunyi (ist)

Kecelakaan atau tabrakan beruntun di Tol Cipularang atau Tol Purbaleunyi (ist)

POJOKJABAR.com, BANDUNG – Akademisi ITB Dr Sony Sulaksono Wibowo menjelaskan kecelakaan lalulintas bukan dikarenakan satu faktor saja, termasuk di Tol Cipularang. Namun banyak faktor hingga kecelakaan terjadi.

“Setiap kecelakaan lalu lintas selalu melibatkan satu atau beberapa faktor dari empat faktor, yaitu faktor manusia, faktor kendaraan, faktor jalan, dan kondisi alam,” papar dosen Program Studi Teknik Sipil ini, Jumat (6/9).

Dirinya juga menjelasakan bahwa saat ini kondisi jalan di wilayah tol Cipularang terbilang cukup baik.

“Baik, namun yang harus menjadi catatan adalah muatan kendaraan yang berlebihan yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan,dan mengakibatkan rusaknya jalan tersebut,” papar Sony.

Dalam banyak kasus kecelakaan di jalan tol di Indonesia, faktor manusia dan kendaraan cukup dominan sebagai penyebab kecelakaan dibandingkan dengan faktor kondisi jalan serta kondisi alam.

“Terkait dengan kondisi jalan, saat ini infrastruktur jalan di segmen tersebut relatif cukup baik,” ujarnya.

Untuk rambu batasan kecepatan dan pita pengaduh (rumble strips) sudah cukup tersedia dan itu sebenarnya sudah cukup.

“Ada pendapat perlu ditambahkan flashing yellow light (lampu kuning yang kelap kelip) namun hal tersebut kurang lazim di ruas jalan yang relatif bebas hambatan seperti jalan tol,” jelasnya.

Jalan tol Cipularang KM 90-an arah Jakarta tersebut umumnya lurus dan menurun.

“Kondisi ini cenderung mendorong pengemudi untuk memacu kendaraannya,” katanya.

“Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian tersebut adalah bahwa jalan tol bukan untuk memacu kendaraan. Aturan batasan kecepatan dan menjaga jarak kendaraan sangat penting diperhatikan, khususnya jika ada kendaraan besar di depan,” jelasnya.

Jalan lurus dan menurun harus diwaspadai karena kendali kendaraan lebih sulit daripada kondisi jalan mendatar,serta masalah over dimension over loading (ODOL) .

Hal yang menjadi perhatian utama di kecelakaan tersebut adalah kelaikan kendaraan (truk) yang overloading.

Saat ini, truk over dimension over loading (ODOL) menjadi perhatian utama karena selain menyebabkan percepatan kerusakan jalan, juga rawan kecelakaan.

Umumnya truk ODOL adalah truk modifikasi yang belum tentu modifikasinya termasuk penyesuaian komponen-komponen yang terkait keselamatan, seperti kapasitas rem, kekuatan as, sudut kaca spion, jenis ban, dan lainnya.

Menurutnya, masalah ODOL tidak murni kewenangan Perhubungan.

“Yang dapat perhubungan lakukan hanya masalah di hilir sementara di hulu lebih banyak dalam kewenangan Perindustrian dan juga Perdagangan,” tegas Sony

Dirinya menegaskan kembali bahwa kecelakaan yang banyak terjadi di tol cipularang dikarenakan overloading.

Jika berbicara masalah teknologi untuk perbaikan jalan rasanya kurang tepat dan tidak ada yang spesifik.

“Prinsipnya, teknologi yang terkait dengan jalan tidak ada yang spesifik. Isu kecelakaan tersebut sudah berkembang ke masalah kendaraan yang overloading,” pungkasnya.

Mobil yang terbakar saat tabrakan beruntun di Tol Cipularang KM 91 (ist)

Mobil yang terbakar saat tabrakan beruntun di Tol Cipularang KM 91 (ist)

 

(arf/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds