Menepis Mitos Mistis Kecelakaan Maut di Tol Cipularang, Berikut Faktanya

Kecelakaan atau tabrakan beruntun di Tol Cipularang atau Tol Purbaleunyi (ist)

Kecelakaan atau tabrakan beruntun di Tol Cipularang atau Tol Purbaleunyi (ist)

POJOKJABAR.com, BANDUNG-– Banyaknya kecelakaan di tol Cipularang menimbulkan berbagai asumsi publik, mulai mistis, hingga kesalahan struktur jalan dan berbagai pendapat lain.

Dari segi mistis, sejumlah cerita tragedi kecelakaan yang terjadi di ruas tol Cipularang khususnya di kilometer 90-an, banyak di asumsikan bahwa kecelakaan tersebut disebabkan oleh gangguan mahluk tak kasat mata.

Tak sedikit yang mempercayai bahwa para korban kecelakaan merupakan tumbal bagi mahluk penunggu tol Cipularang.

Bukan tanpa alasan hal tersebut muncul ke permukaan, pasalnya banyak cerita rakyat yang bertebaran di masyarakat akan mitos-mitos di kawasan tersebut.

Namun terlepas dari segala mitos yang ada tentang penyebab terjadinya kecelakaan yang kerap terjadi di tol Cipularang, para ahli dan akademisi berpendapat, kecelakaan yang terjadi di tol Cipularang merupakan hal yang biasa.

Hal ini karena kontur jalan di wilayah tersebut merupakan kontur tanah perbukitan sehingga banyak tanjakan dan turunan yang curam yang dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan.

Hal tersebut dijelaskan pakar yang juga konsultan pembangunan jalan dari Universitas Pendidikan Indonesia ( UPI), Eka Satria.

Tol Purbaleunyi

Kecelakaan Tol Purbaleunyi KM 110 di Bandung, Selasa (19/2/2019)./Foto: Istimewa

Menurutya banyaknya terjadi kecelakaan di wilayah tol Cipularang khususnya di wilayah Purwakarta berkaitan dengan kontur tanah yang cukup extreme.

Eka juga menjelaskan mengapa suatu kontruksi jalan bisa menjadi cukup extreme.

“Secara garis besar, untuk daerah purwakarta merupakan trmasuk kontur yang tinggi,perbedaan kontur yang terlalu jauh menyebabkan perencanaan trase jalan diharuskan disesuaikan dengan standar perencanaan yang sudah ditetapkan,” jelasnya, Jumat (6/9).

Untuk kasus ini, kecepatan kendaraan juga diperhitungkan secara standar bina marga.

“Terdapat kelas jalan yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan, semua standar terdapat pada perencanaan geometrik jalan dari DPU ( Dinas Pekerjaan Umum),” jelasnya.

Selain faktor jalan, harus juga ditumbuhkan kesadaran masyarakat agar berkendara sesuai aturan yang ada.

“Artinya masyarakat harus paham terkait rambu yang terpasang di bahu jalan antara lain masalah kecepatan kendaraan,” paparnya.

Faktor kesadaran dari para pengendara sangat penting, harus juga ada penambahan rambu, baik rambu mati maupun rambu aktif.

“Seperti pemberitahuan lampu led, yang tak kalah penting yakni pengecekan beban muatan/jembatan timbang( khusus truk dan muatan besar) sangatlah diperlukan,” paparnya.

Terkait perbaikan kontur jalan,dirinya merasa itu amat sangat sulit dilakukan ,namun bukan juga tidak mungkin pasalnya perbaikan kontur jalan tersebut akan memakan anggaran yang sangat besar.

“Untuk perbaikan kontur jalan, itu sudah tertuang pada perencanaan jalannya, ataupun ada perbaikan jalan agak sulit,” jelasnya.

“Karena kalau perbaikan kontur akan menelan banyak biaya karena akan ada pkerjaan cut and fill atau potong kontur atau potong gunung istilah nya,” tegasnya.

 

(arf/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds