Atasi Kekeringan, ACT Bangun Sumur Wakaf di Ratusan Titik Lokasi

Kekeringan di Bogor (ilustrasi)./Foto: Rishad

Kekeringan di Bogor (ilustrasi)./Foto: Rishad

POJOKJABAR.com, BANDUNG– Aksi Cepat Tanggap (ACT) menjalankan tiga program utamanya, yakni penyediaan air bersih, layanan medis, dan bantuan pangan.

Hal tersebut merupakan siaga dalam menghadapi bencana kekeringan tahun ini.

Diketahui, ACT telah menyalurkan bantuan jutaan liter air bersih dan membangun sumur wakaf di 263 titik lokasi untuk ratusan ribu penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Aksi tersebut pun masih terus berlangsung.

Demikian disampaikan Presiden ACT Ibnu Khajar, Rabu (21/8).

“Untuk empat bulan terakhir, ACT telah memproses kurang lebih 1.400 sumur wakaf di seluruh Indonesia. Tahap awal penanganan kekeringan ACT akan suplai kebutuhan air bersih sebanyak 2,1 juta liter per hari melalui mobile water tank dengan total 60 juta liter per bulan,” ungkap Ibnu. Selain itu, ACT turut mengajak masyarakat bahu-membahu mengatasi kekeringan melalui yang dapat dengan mudah dilakukan di bit.ly/DermawanAtasiKekeringan. “Mari kita atasi kekeringan yang mematikan ini dengan menjadi Dermawan. Insya Allah, ini bukti kita peduli tidak hanya untuk warga Indonesia namun juga dunia,” ajak Ibnu. Dalam aksinya kali ini, ACT berkolaborasi dengan BMKG, dalam informasi terbaru terkait hasil monitor dan peringatan dini terkait wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Menurut data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, dimana sebanyak 64,94 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, di bawah 100 mili meter per bulan, pada Agustus 2019. BMKG juga menyatakan, musim kemarau 2019 akan terjadi kekeringan panjang akibat beberapa faktor yaitu fenomena El Nino, kuatnya Muson Australia, dan anomali peningkatan suhu udara akibat perubahan iklim. Sejalan dengan itu, Wahyu Novyan, Direktur Social Distribution Program (SDP) ACT menyatakan, saat ini hampir 3,5 juta warga menjadi korban dampak kekeringan. “55 kota dan kabupaten telah terdampak. Artinya lebih dari dua per tiga dari total semua provinsi di Indonesia. Jika terus dibiarkan ini dapat menyebabkan lost generation. Hal ini yang perlu dijadikan perhatian utama. Merespon kondisi ini, ACT akan mendistribusikan 2,1 juta liter air bersih per hari, di 28 cabang kantor ACT dengan target kita bisa memberikan 500.000 penerima manfaat per hari,” ungkap Wahyu. Wahyu juga menambahkan, kekeringan memang bukan bencana yang bisa secara langsung berdampak pada kematian. Namun kekeringan merupakan bencana yang sangat laten. “Kekeringan bukan bencana rapid on set namun slow on set. Slow on set memiliki dampak mematikan, dengan kondisi air bersih di dunia sekarang hanya sebesar tiga persen. Hal ini tentu akan berdampak pada generasi mendatang. Tentunya, dengan bahaya laten kekeringan ini kami mengajak partisipasi masyarakat untuk benar-benar peduli dengan bencana yang dampaknya tidak hanya terjadi saat ini namun hingga ke generasi berikutnya,” sambung Wahyu. Senior Manager Global Medic Action ACT dr. Rizal Alimin pun menyampaikan, bencana kekeringan yang menimpa hampir di seluruh daerah Indonesia tentu memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat. “Di musim kemarau, akan terdapat banyak kemungkinan peningkatan penyebaran hepatitis A, tifus, malaria hingga demam berdarah, dan penyakit lainnya,” ungkapnya. Selain itu, secara jangka panjang pengaruh buruk kekeringan panjang akan berdampak peningkatan stunting bagi anak-anak. Hal ini karena dengan bencana kekeringan ekstrem ini akan mempengaruhi pola makan, pola asuh hingga sanitasi pada warga yang terdampak Dari sisi pelayanan medis, ACT terus rutin dalam memberikan layanan dan edukasi kesehatan di daerah-daerah yang terkena bencana kekeringan ekstrem hingga persiapan program jangka panjang untuk mengatasi siklus kekeringan ini.

Program-program tersebut yaitu program pemberdayaan masyarakat, pembangunan embung, biopori, pembuatan sumur resapan, program ruang terbuka hijau bersama pemerintah, dan program lainnya yang telah disiapkan.

Program jangka panjang tersebut sebagai solusi untuk daerah rawan kekeringan dalam menghadapi musim kemarau di tahun-tahun mendatang.

(gan/rmol/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds