Soal Korban Aksi 21-23 Mei, Blak-blakan Partai Demokrat Sebut Senjata Makan Tuan

Ilustrasi Partai Demokrat.

Ilustrasi Partai Demokrat.

POJOKJABAR.com, BANDUNG–┬áPengusutan tuntas penyebab para korban aksi 21, 22 dan 23 Mei 2019 meninggal dan mengalami luka-luka menjadi desakan┬áPartai Demokrat kepada pihak berwenang.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Syarief Hasan menegaskan bahwa desakan itu dilakukan karena ada semacam paradoks mengenai penggunaan peluru tajam pada aksi di beberapa titik ibu kota itu.

“Menurut polisi, mereka tidak membawa peluru. Tapi, rata-rata mereka (korban) ini lukanya dari tembakan peluru. Ini paradoks sekali ya,” tekannya saat membesuk enam orang korban yang masih dirawat di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Sabtu (25/5).

Untuk itu, Syarief mendesak pihak berwenang melakukan pengusutan secara tuntas dan gamblang mengenai luka tembak yang diderita para korban.

“Bagaimanapun juga, ini rakyat dan peluru ini dibeli rakyat Indonesia, kok jadi senjata makan tuan?” tekannya.

Dalam kunjungan tersebut, Syarief datang dengan beberapa pengurus partai berlambang mercy itu. Selain memberikan semangat dan mendoakan kesembuhan bagi enam korban luka yang dirawat di sana, mereka juga memberikan santunan.

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD DKI Jakarta, Taufiqurrahman yang turut hadir mengamati bahwa para korban rata-rata masih berusia muda.

Makanya, dia menilai penembakan terhadap para korban merupakan pelanggaran yang serius dan harus ditindak tegas. Apalagi pemerintah Indonesia pernah ikut terlibat saat melakukan ratifikasi konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Ini masuk dalam kategori penyiksaan (torture),” imbuhnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kedatangan mereka kali ini bukan hanya untuk memberikan semangat dan santunan kepada para korban. Melainkan juga untuk memastikan bahwa pihak RSUD Tarakan telah memberikan pelayanan terbaik bagi pasien mereka. Pemerintah pun dimintanya untuk membebaskan biaya perawatan para korban.

“Kami juga harap pemerintah bertanggung jawab, minimal pasien tidak ada lagi yang dibebani biaya perawatan dan biaya pemulihan pascaperawatan,” pungkasnya.

(jar/rmol/pojokjabar)

loading...

Feeds