Politik Uang Masih Marak Jelang Pilpres dan Pileg 2019, Masyarakat Malas Lapor ke Bawaslu

Ilustrasi korupsi

Ilustrasi korupsi


POJOKJABAR.com, CIREBON— Bawaslu RI memprediksi politik uang bakal terjadi di masa jelang pemilihan.  Padahal sudah ada caleg yang tertangkap karena sudah siapkan serangan fajar seperti Bowo Sidik.

Oleh karenanya, Bawaslu mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif mengawasi penyelenggaraan pemilu 2019.

Menurut Anggota Bawaslu RI Mochammad Afiffuddin, keterlibatan masyarakat di dalam mengawasi pemilu masih sangat rendah.

Dari 6 ribu pelanggaran yang telah ditindak Bawaslu, hanya 10 persennya saja yang berasal dari laporan, sisanya adalah temuan.

“Kita pengen mendorong juga masyarakat terlibat yang sampai saat ini masih sekitar 10 persen dari laporan masyarakat,” kata Afiffuddin di Cirebon, Jum’at (5/4).

Afif menilai, masyarakat masih menganggap praktek politik uang sebagai hal biasa dalam kepemiluan.

Padahal, Undang-Undang, PKPU dan regulasi yang ada secara tegas melarang praktik tersebut.

Untuk itu, Bawaslu RI dalam waktu dekat akan mengadakan apel bersama secara serentak dengan melibatkan seluruh jajaran pengawas.

Apel bersama ini, dalam rangka memunculkan psikologi ketakutan para pihak yang akan melakukan politik uang.

“Jangan sampai publik ini jadi terbiasa, merasa biasa-biasa saja, dianggap normal, kalau orang memberi dan menerima atas nama pemilihan,” tegasnya.

“Ini harus kita lawan, dengan cara itu. Kami jajaran akan mengajak para relawan partisipatif juga untuk melakukan apa yang kita sebut patroli anti politik uang,” sambung Afif.

Afif mengidentifikasi, kebiasaan politik uang biasa terjadi pada tahapan masa tenang hingga hari H.

“Hasil identifikasi kami, politik uang itu akan marak menjelang hari-hari H, baik di hari H ataupun masa tenang,” demikian Afif.

Seperti diketahui, KPK telah memperbarui data perkembangan penghitungan uang di amplop serangan fajar Bowo Sidik Pangarso, caleg dari Partai Golkar.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, pada Kamis siang (4/4) tim mulai masuk pada penghitungan uang di amplop pada kardus keempat.

“Sejauh ini telah dibuka 15 ribu amplop. Uang dalam amplop berjumlah Rp300 juta,” ungkap Febri Diansyah kepada wartawan, Kamis (4/4/2019).

Sebelumnya, KPK telah membuka tiga kardus, dari 82 kardus dan dua kontainer plastik berisi amplop yang disita KPK dalam kasus Bowo Sidik Pangarso.

Dari tiga kardus itu, KPK menemukan uang berisi Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu.

Jumlah uang telah dihitung dari tiga kardus itu mencapai Rp 246 juta, dari Rp 8 miliar yang diduga ada di 400 ribu amplop yang disita.

Sebelumnya, KPK juga menguak misteri soal adanya cap jempol dalam amplop serangan fajar milik anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso.

Namun hanya cap jempol saja, dan tidak ada nomor urut pada  amplop itu terkait pilpres 2019.

(ral/rmol/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds