Boyke Sudah Ciptakan 50 Pengusaha ‘Donat Boyke’

Boyke Febrian Mohammad telah berhasil menciptakan 50 pengusaha baru dengan brand

Boyke Febrian Mohammad telah berhasil menciptakan 50 pengusaha baru dengan brand " Donat Boyke "

Quick Count Pilpres 2019

POJOKJABAR.com, BANDUNG – Sedikitnya 50 usaha baru diciptakan Boyke Febrian Mohammad melalui brand ‘Donat Boyke. Keseriusan Boyke untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitarnya, atau diwilayh bandung perlu dipresiasi semua pihak.

“Tujuan kita jelas untuk mensejahterakan masyarakat, memiliki penghasilan lebih untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Alhmdulillah hi gga saat ini sudah ada 50 pengusaha ‘Donat Boyke’,” beber Boyke Febrian Mohammad kepada wartawan.

Terpisah, menurut Ujang Komarudin Direkrur IPR mengatakan apa yang di lakukan Boyke sangat mengena kepada masyarakat, karena diberdayakan dengan program usaha umkm untuk mensejahterakan masyarakat setempat.

Calon Anggota Legislatif (Caleg), diwajibkan turun langsung menyapa masyarakat, menyebarkan visi-misi dan programnya, aga bisa dikenal oleh masyarakat sebagai wakil rakyat.

Begitu ditegaskan, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin, dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Rabu (6/3).

Ujang menilai, kampanye door to door atau sapa langsung masyarakat merupakan cara yang paling efektif, mengingat pemberitaan pilpres cenderung masif dibandingkan pileg.

“Pemilu serentak antara Pileg dan Pilpres. Menjadikan pemberitaan Pileg sepi dan tertutup Pilpres. Harusnya dengan minimnya pemberitaan dalam Pileg, para Caleg harus lebih giat dan keras dalam menyapa rakyat. Agar rakyat mengenalnya,” tegas Ujang.

Berdasarkan simulasi survei di beberapa daerah kata Ujang, banyak masyarakat yang sama sekali tidak mengenal para wakilnya. Sehingga dua metode kampanye udara dan darat (Media dan Sapa Masyarakat), harus masif dilakukan para caleg.

“Hasil simulasi tersebut, sejatinya menjadi bahan evaluasi dan introspeksi diri agar para Caleg memperkenalkan diri secara masif. Baik menyapa langsung via darat. Atau menyapa menggunakan media sosial atau media-media yang lainnya (via udara),” jelasnya.

Apalagi kata Ujang, ketika para caleg bertarung di daerah perkotaan seperti pertarungan legislatif di daerah pemilihan Jawa Barat I yakni Kota Bandung dan Kota Cimahi, mengharuskan para caleg turun sapa masyarakat. Karena tipe pemilih diperkotaan yang lebih rasional.

“Maka mau tidak mau. Suka tidak suka. Para Caleg harusnya menyapa pemilih secara intensif. Karena pemilih rasional cenderung akan memilih berdasarkan pada apa yang ditawarkan oleh para caleg tersebut. Dan program-program yang ditawarkan itu bisa tersosialisasikan jika para caleg menyapa langsung pada masyarakat. Dan bisa juga melalui media,” kata Ujang.

Jangan sampai dalam kontestasi pileg ini, para caleg tidak turun untuk menyapa masyarakat. Bahkan dalam kampanye di media pun para caleg tidak melakukan itu.

“Minim pengenalan diri. Minim kampanye. Tiba-tiba membeli suara rakyat di hari H. Yang terjadi akhirnya demokrasi menjadi rusak. Rusak karena money politics yang dilakukan oleh para Caleg,” paparnya.

Dengan demikian, masyarakat akan dipaksa untuk menerima suap tersebut demi mendapatkan suara yang diinginkan oleh para caleg. Namun setelah itu para caleg kabur dan tidak bertanggung jawab atas suara yang telah diberikan kepadanya.

“Setelah menang mereka kabur. Setelah terpilih mereka menghindar. Dan setelah menjabat potensi melakukan korupsi sangat besar bagi para caleg-caleg yang terpilih tersebut,” pungkasnya. (Arf/pojokjabar)

loading...

Feeds