Categories: Bandung

Neng Supartini dan Sri Fujiutami di ‘Telanjangi’ Pengacara Terdakwa Dihadapan Majelis Hakim Tipikor

POJOKJABAR.com, BANDUNG – Para saksi kasus sppd fiktif korupsi di dprd purwakarta yang menghadirkan unsur pimpinan dewan, membuat para majelis hakim, jaksa dan pengacara naik pitam saat mendengar keterangan pimpinan dewan yang selalu berbelit.

Beberapa pertanyaan jaksa selalu dijawab dengan secara politis, hal itu tentu saja membuat para jaksa menaikan dahi saat mendengar jawaban-jawaban dari unsur pimpinan dprd.

“Ibu Neng benar menandatangani kwitansi kosong,” tanya jaksa kepada wakil ketua III DPRD Neng Supartini.

“Saya menandatangani kwitansi kosong karena percaya kepada sekretariat dewan, hal itu merupakan kesalahan saya,” jawab Neng Supartini.

“Jawabnya benar atau tidak menandatangani kwitansi kosong,” cecar jaksa menanyakan kembali kepada Neng Supartini.

“Benar saya menandatangani,” singkat Neng Supartini.

“Ibu Sri, berapa kali anda mengikuti Bimtek,?” tanya Jaksa.

“Sesuai dengan proker bimtek di tahun 2016 ada 8 kali, 1 kali bintek partai,” beber Sri Fujiutami.

Baik, lanjut jaksa, ini ada beberapa lpj baik bimtek maupun kunjungan kerja yang Surat Perintah (SP) nya ditandatangani para unsur pimpinan, tapi tidak ada di dalam proker. Silahkan semuanya maju kedepan.

Para unsur pimpinan dewan, Sarip Hidayat, Warseno, Sri Fujiutami dan Neng Supartini maju kedepan mereka diminta tandatangan di depan hakim. Tujuannya tandatangan mereka akan dicocokkan dengan SP-SP bodong yang ada tandatangan para unsur pimpinan.

Setelah dilihat kemudian hakim cocokan setiap tandatangan unsur pimpinan dewan, dengan spontan hakim mengatakan tandatangan mereka sama.

“Ini sama tandatangannya,” jelas hakim.

Coba jelaskan kenapa ada SP seperti ini, kegiatannya tidak dilaksanakan tapi anggarannya dikeluarkan kata hakim.

Sarip, Warseno, Neng dan Sri memberikan alasan yang berbelit. Yang pada intinya mereka menyalahkan sekretariat dewan (Sekwan). Mendengar itu, pengacara terdakwa Sekwan (Ahmad Rifa’i) Deden SH tampak mengerutkan dahi. Ketika dirinya diberi kesempatan bertanya, Deden langsung ‘menelanjangi’ unsur pimpinan dewan.

“Ibu Neng dan Ibu Sri, pada bulan April 2016 ada aliran dana dari bagian keuangan kepada anda berdua nilainya ratusan juta rupiah benar atau tidak,?” tanya Deden dengan suara meninggi.

Neng Supartini dan Fuji tampak gugup menjawabnya, beberapa saat mereka berfikir masalah aliran dana tersebut. Bahkan cenderung berbelit jawaban keduanya. Deden SH selaku pemgacara terdakwa Sekwan langsung maju kedepan hakim sambil membawa bukti (yang diketahui belakangan bukti itu berupa BA atau Berita Acara) penyerahan uang kepada dua orang unsur pimpinan.

Saat didepan hakim baik Neng Supartini maupun Fuji masih berusaha menjawab secara berbelit, namun diakhir perkataan Deden tampak kesal.

“Benar atau tidak berita acara ini,” kata Deden dengan suara meninggi dihadapan majelis hakim.

Neng dan Fuji menjawab ‘Benar prihal berita acara tersebut’.

“Cukup yang mulai,” kata Deden, seolah-olah kesal ingin mepermalukan unsur pimpinan yang selalu menjawab berbelit belit.

Dengan wajah pucat pasi, keduanya duduk kembali dikursi panas pengadilan Tipikor. (Arf/pojokjabar)

Pees

Share
Published by
Pees
Tags: berita terkini bandungDPRD Purwakartakasus korupsi dprd purwakarta

Recent Posts

  • Bandung

Persiapan Mudik, Polrestabes Bandung Sibuk Tes Urine Supir Bus, Berikut Lokasinya

Saya berharap semua supir melakukan tes urine

27 Mei 2019 11:23 WIB 11:23
  • Bogor

Lomba Nasyid Milad UIKA ke-58 Dimulai, Puluhan Unit Group Nasyid Tampil

Agar lantunan pesan ilahi ini terus bergema untuk meningkatkan keimanan kita semua

27 Mei 2019 11:13 WIB 11:13
  • Bekasi

Jelang Lebaran, Ini Pesan Wakil Wali Kota Bekasi

Pemerintahan

27 Mei 2019 11:13 WIB 11:13
  • Depok

Rampok Bersenpi di Depok Gondol Brangkas-Motor

Jelang lebaran rampok makin nekat saja. Sabtu (25/5/19) malam, perampok menyatroni minimarket Alfamart di Jalan Abdul Wahab RT4/8, Kelurahan Kedaung,

27 Mei 2019 11:00 WIB 11:00
  • Bandung

Stok Darah di PMI Kabupaten Bandung Kritis

Stok darah di Unit Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bandung, masuk dalam kondisi kritis. Lantaran beberapa stok darah sudah habis…

27 Mei 2019 10:50 WIB 10:50