Pakar IT Jebolan ITB yang Dulu Dibacok Sebut Data Pilpres KPU Rentan Disadap Hacker, Berikut Penjelasannya

Hermansyah ahli IT ITB yang dikeroyok orang tak dikenal hingga kritis

Hermansyah ahli IT ITB yang dikeroyok orang tak dikenal hingga kritis

POJOKJABAR.com, JAKARTA — Pakar IT Hermansyah yang dulu dibacok menyebut jaringan berbasis Wifi KPU mudah disadap. Pakar yang mau ungkap dugaan chat Habib Rizieq ini gabung Prabowo.

Setelah lama tak muncul usai mengalami kasus pengeroyokan menggunakan senjata tajam tahun 2017 lalu, pakar telematika jebolan Institut Tekhnologi Bandung (ITB), Hermansyah, belakangan mulai aktif di kancah politik.

Tak hanya itu, Hermansyah bahkan mengaku siap berperan aktif mengawal dan menjaga proses perolehan suara pada pemilihan presiden April 2019 dari tangan-tangan hacker.

Kasus penusukan pakar IT Hermansyah pada 2017 lalu. (doc)

Kasus penusukan pakar IT Hermansyah pada 2017 lalu. (doc)

Hal itu diungkapkan Hermansyah usai menghadiri deklarasi Komando Ulama Pemenangan Prabowo Sandi atau Koppasandi di Depok, Jawa Barat, Minggu (20/1).

Menurut Hermansyah, ada beberapa cara agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) bisa terhindar dari aksi jahil hacker.

“Sekarang KPU kan punya server sendiri, sehingga distribusi data dan sebagainya benar berjalan. Saya tekankan sebaiknya KPU jangan menggunakan WiFi (internet online),” katanya seperti dilansir viva.

Sebab, kata Hermansyah, jaringan berbasis WiFi rentan terjadi penyadapan. Sebaiknya, untuk menekan hal itu, ia menyarankan agar KPU menggunakan jaringan kabel.

“Kalau lewat WiFi lebih mudah (disadap). Nah kalau kabel itu enggak nembus jadi kalau mau nyadap orang yang punya kabel jadi susah. Kalau KPU punya WiFi, orang masuk lewat WIFi artinya lebih rentan menggunakan WiFi,” ujarnya.

Kemudian, dalam konteks perolehan suara jika dibayangkan koalisi masing-masing mempunyai kekuatan atau kunci membuka, maka harus membutuhkan kunci data.

“Kalau bisa jangan hanya satu orang saja yang bisa buka. Jadi si A,B,C bisa buka artinya tidak semena-mena membuka data,” ujarnya.

Terkait hal itu, Hermansyah pun mengaku siap bergabung bersama Koppasandi untuk menggalang kekuatan, menjaga Tempat Pemungutan Suara atau TPS. Sebab, ia menilai tekhnologi data mudah sekali dimanipulasi.

“Kami mau buat ratusan juta data semacam google. Berbagai macam google bikin sendiri, mudah sekali. Kami menyebut namanya teori handuk semacam multi corn,” katanya.

Banyak teknologi bisa dipakai dalam konteks pemilu. Penyampaian data di TPS bisa real-time meski belum selevel di luar negeri.

“Jadi yang susah bukan data TPS sampai ke KPU. Itu tadi bahasanya menggunakan privat network, server yang dianalisis apakah ada trojan di dalam server yang mampu mengubah data base dan sebagainya. Di negara ini ada banyak yang pinter,” ujarnya.

“Insya Allah saya siap mengawal, mendukung Pak Prabowo jadi presiden. Saya tidak akan jadi hacker tapi menjaganya dari hacker supaya ini benar-benar menjadi demokrasi,” jelasnya.

(ral/int/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds