JPU Geram kepada Anggota Dewan, Hakim Tegur Ketua Komisi IV Berkali-kali

Para anggota dewan dari komisi IV maju kedepan hakim, saat dikonfrontir masalah tandatangan dan dibenarkan dalam kwitansi tersebut merupakan tandatangan para anggota dewan.

Para anggota dewan dari komisi IV maju kedepan hakim, saat dikonfrontir masalah tandatangan dan dibenarkan dalam kwitansi tersebut merupakan tandatangan para anggota dewan.

POJOKJABAR.com, BANDUNG – Jaksa Penunutut Umum (JPU) pada sidang SPPD Fiktif Korupsi di DPRD Purwakarta tampak geram dan menahan emosi, kemarahan dari JPU disebabkan saat para anggota dewan yang menjadi saksi secara koor membenarkan mereka menandatangani kwitansi kosong.

“Benar saudara-sauadara sekalian menandatangani kwitansi kosong,?” tanya Rhendy, salah seorang JPU yang bertanya kepada para saksi anggota dewan dari komisi IV.

“Benar,” jawab sebelas anggota dewan yang hadir secara koor dan kompak.

“Berikan alasan kenapa saudara-saudara menandatangani kwitansi kosong,” kejar Rhendy, dengan nada suara agak meninggi meminta alasan para anggota dewan menandatangani kwitansi kosong untuk setiap kegiatan.

Beragam jawaban yang diberikan oleh para anggota dewan, yang pada intinya mereka beralasan menandatangani kwitansi kosong karena percaya kepada kesekretariatan untuk memudahkan proses lpj dan pencairan kegiatan.

mendengar jawaban tersebut, JPU tampak langsung naik pitam. Dengan suara tinggi dan keras JPU memarahi para anggota dewan dari komisi IV.

“Gara-gara ulah kalian dengan menandatangani kwitansi kosong negara dirugikan hingga 2,4 milyar, kalian mengerti,” geram Rhendy, dengan intonasi yang berapi-api dan bersuara tinggi.

Para saksi yang merupakan anggota DPRD Purwakarta komisi IV pada tahun 2016 tersebut, hanya mampu menunduk saat mendengar uraian JPU tentang kesalahan fatal menandatangani kwitansi kosong yang merugikan negara hingga 2,4 Milyar.

Selain itu, ada kejadian lainnya yang menarik dipersidangan. Ketua Komisi IV (2016) Ahmad Sanusi (Amor) beberapa kali mendapatkan teguran dari hakim karena berbicara tanpa diminta.

Salah satunya seperti saat JPU bertanya kepada Astri Novitasari, dengan wajah gugup astri menjawab pertanyaan dari JPU, kemudian tanpa diminta bicara, Amor menambahkan jawaban atas pertanyaan JPU kepada Astri. Namun saat belum selesai bicara hakim memotong jawaban Amor.

“Saudara diam dulu, jangan dulu bicara kalau tidak ditanya,” tegur Hakim ketua kepada Amor, memotong pembicaraan Amor karena yang diperlukan jaksa bukan jawaban dari Amor melainkan dari Astri.

Sidang ke VII kasus SPPD Fiktif korupsi di dprd tahun 2016 dengan kerugian negara mencapai 2,4 milyar menghadirkan belasan saksi, dari komisi IV sendiri berjumlah 11 orang yaitu Ahmad Sanusi (Amor), Ragil Sukamto, Haerul Amin, Alaikassalam, Rifki Fauzi, Hj.Nenah, Yhanti, Astri Novitasari, Komarudin noor, Ujang Rosadi dan Imam Subekti. (Arf/pojokjabar)

Loading...

loading...

Feeds