Habib Bahar Beberkan Kitab Islam ke Penyidik Polri Selama 11 Jam Diperiksa, Jokowi Banci Hanya Majas

Habib Bahar bin Ali bin Smith. (inst)

Habib Bahar bin Ali bin Smith. (inst)

POJOKJABAR.com, JAKARTA— Tersangka Habib Bahar bin Ali bin Smith menganggap perkataannya yang menyebut Jokowi banci hanya majas atau perumpamaan. Tidak bermaksud menghina Jokowi.

Hal itu diungkapkan oleh kuasa hukum Habib Bahar, Aziz Yanuar, usai mendampingi pemeriksaan kliennya di Bareskrim Polri, Kamis (6/12) malam.

Menurut Aziz, kata-kata yang digunakan oleh Bahar dalam ceramah tersebut hanyalah sebuah majas atau kiasan.

Baca :

Guru Besar Hukum Ini Bicara, Polisi ‘Paksakan’ Habib Bahar Tersangka Kasus Jokowi dari Laporan Orang! Ini Penjelasannya!

“Kalau tadi sudah dibantah oleh Habib. Beberapa keterangan-keterangan hate speech itu dijelaskan mayoritas berisi majas. Habib mengisi ceramah itu mengandung unsur keagamaan, unsur agama Islam. Harus dilihat dari sisi agama Islam kan,” kata Aziz Yanuar di Bareskrim Polri, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (7/12).

Habib Bahar menjalani pemeriksaan di Bareskrim Mabes Polri (JPC)

Habib Bahar menjalani pemeriksaan di Bareskrim Mabes Polri (JPC)

Ia mengatakan selama pemeriksaan Habib Bahar juga membawa beberapa kitab untuk menjelaskan maksud dari perkataannya dalam ceramah tersebut.

Menurut Habib Bahar, ucapannya dalam ceramah itu tidak ada yang bermaksud menghina karena hanya perumpamaan.

“Beliau tadi bawa buku, kitab mengenai masalah-masalah majas yang dimaksudkan bahwa yang dimaksud itu konotasinya negatif apalagi bagi pendukungnya. Tapi kalau dari sisi umum beliau dapat menjelaskan bahwa ini normal saja. Perumpamaan gitu,” kata Aziz menjelaskan.

Aziz juga menyangkal jika penggunaan kata banci dianggap menyerang kaum minoritas.

Menurutnya kata itu dipilih katena sering digunakan untuk mengungkapkan orang yang tidak berani menghadapi masalah.

“Jadi orang yang tidak berani menghadapi sesuatu itu kan kadang normal ya di kehidupan kita disebut banci dan sebagainya. Tapi lebih jelasnya detail tadi unsur agama itu kan, mungkin bukan kompetensi saya menjelaskan,” kata Aziz.

Aziz juga mengungkapkan, Bahar ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa lebih dari 11 jam. Meski begitu pimpinan sekaligus pendiri Majelis Pembela Rasullah itu tidak ditahan.

Habib Bahar disangkakan melanggar Pasal 45 jo Pasal 28 UU ITE dan Pasal 16 jo Pasal 4 UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Habib Bahar menjelaskan dasar dirinya menyebut Jokowi banci, yakni berdasarkan aksi 411 pada tahun 2016.

Saat itu, kata Bahar, massa beserta ulama sudah berkumpul di depan Istana. Tapi, Jokowi tak kunjung menemui ulama, habaib dan kiai.

“Makanya jangan dipotong, tonton dari awal. Pertama kenapa, ketika 411 jutaan umat islam, ribuan ulama, habaib, kiai, berkumpul untuk menemui, minta keadilan,  justru para kiai habaib santri diberondong gas air mata dan presiden kabur,” jelas Bahar di Monas, Jakarta, Minggu (2/12).

Diketahui potongan ceramah Habib Bahar yang viral pada acara penutupan Maulid Arba’in di Palembang pada 8 Januari 2017 silam membuatnya dilaporkan ke polisi.

(ral/pojokjabar)

loading...

Feeds