Jokowi Kena Tuding Sumber Sontoloyo dan Genderuwo, Bikin Takut?

Presiden Jokowi,.Foto: jpc

Presiden Jokowi,.Foto: jpc

POJOKJABAR.com, BANDUNG–  Orasi politik Jokowi yang menyebut ‘Politik Genderuwo’ di Tegal, Jawa Tengah, mendadak viral di media sosial.

Kegeraman Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan politikus yang kerap menebar pesimisme dan ketakutan berbuntut panjang.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fahri Hamzah mengaku tak sependapat dengan mantan Wali Kota Solo itu. Dia bilang, pemerintah justru yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan pembelahan di masyarakat.

“Jadi yang punya kemampuan menciptakan opini dan pembelahan ideologis itu sebenarnya adalah pemerintah,” kata Fahri di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (9/11/2018).

Mantan politikus senior PKS itu lantas membandingkan kepemimpinan dua periode Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan zaman Jokowi. Dia berpendapat, selama kepemimpinan ketua umum Partai Demokrat itu dinilainya tak pernah terjadi pembelahan ideologi seperti sekarang.

“Pak SBY 10 tahun jadi presiden, waktu itu FPI ada, waktu itu ada HTI, waktu itu pejabat di mana-mana sama. Tapi, kita tidak merasakan pembelahan dan konflik ideologi seperti ini, tajam dan runcing,” kata dia.

“Lalu ini karya siapa? Kalau rakyatnya tetap, sementara pemimpinnya yang berubah. Maka dugaan kita, sumber dari sontoloyo dan genderuwo itu adalah pemerintah,” sambungnya.

Lebih lanjut, Fahri menilai bahwa Jokowi sejatinya telah mengkritik dirinya sendiri. Sebab menurut dia, pemimpin justru memiliki kapasitas untuk menghentikan politik genderuwo.

“Yang punya kapasitas untuk menjadi sontoloyo dan genderuwo itu adalah pemerintah. Makanya harus kembali ke sendiri. Jadi ini menepuk air terpercik ke muka sendiri,” tukasnya.

Sebagaimana diketahui, Jokowi menyebut soal politik genderuwo saat sedang melakukan kunjungan di Tegal, Jawa Tengah. Dia bilang, beberapa politikus tidak menggunakan etika dan sopan santun politik yang baik.

“Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran. Setelah takut, yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. Masyarakat memang digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga, menjadi ragu-ragu masyarakat, benar nggak ya, benar nggak ya?” singgungnya.

Politikus yang dimaksudkan Jokowi itulah yang disebut sebagai politikus genderuwo. Menurutnya, cara-cara itu tidak beretika.

“Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Nggak benar kan? Itu sering saya sampaikan itu namanya ‘politik genderuwo’, nakut-nakutin,” tegasnya.

(ce1/gwn/jpc/pojokjabar)

loading...

Feeds

Lomba PMR yang diselenggarakan di SMPN 21  Bekasi. (ist)

SMPN 21 Bekasi Gelar Kibar ke-IX

PALANG Merah Remaja (PMR) SMP Negeri 21 Kota Bekasi gelar kibar aksi persahabatan dalam lomba sepulau Jawa-Lampung. Perlombaan yang terselenggara …